Tampilkan postingan dengan label Keragaman Hayati Ayam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keragaman Hayati Ayam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2016

AYAM ARBAIN Persilangan Arab Ras dan Kampung


Ir. Bahrul Ain, alumni Fakultas Peternakan Universitas Mataram dari desa Suralaga, Lombok Timur telah berhasil dengan ayam persilangannya yang diberi nama ayam ARBAIN.

Ayam ARBAIN merupakan persilangan antara Ayam Arab, ayam Ras Petelur, ayam Bangkok dan ayam Kampung, yang kemudian diberi sebutan sesuai dari ayam-ayam yang memberikan keturunan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB, melalui Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI) telah melakukan pengkajian pada kegiatan Kajian Insiatif Lokal pada tahun 2006 terkait dengan pengembangan ayam ARBAIN ini.

Ayam Arbain telah menunjukkan keunggulannya; produktivitas telur mendekati ayam Arab, hen day-nya mencapai 50% (ayam Arab 60-65%); artinya ayam Arbain bisa bertelur 150-200 butir per tahun. Pertumbuhannya cepat dan efisien pakan, dalam umur 6 minggu bobotnya telah mencapai 0,5-0,7 kg menghabiskan pakan rata-rata 0,7 – 1 kg sampai umur 45 hari. Pada umur 6 bulan sudah mencapai bobot jual sekitar 1 – 1,8 kg/ekor. Tekstur daging ayam Arbain lebih lunak dari ayam Kampung tetapi lebih keras dari ayam Broiler.

Ayam Arbain memiliki prospek yang cukup baik di masa mendatang, selain bisa memperkaya sumber ternak penghasil daging dan telur, juga dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat. Saat ini Bahrul Ain terus mengembangkan bisnis ayam Arbain ini dan telah mendapat bantuan dari Bazda dan Koperasi. Penerapan sistem usaha dan pembinaan yang dilakukan oleh Bahrul Ain pada peternak lain adalah dengan sistem inti plasma dan sistem lainnya yaitu peternak membeli telur dan bibit ayam untuk dipelihara sendiri.

Sumber PDF 

Mengenal Ayam Cemara


#AyamKampus ~ Ayam Cemara merupakan jenis ayam yang cukup langka dan termasuk jenis ayam lokal Jawa yang mempunyai kelainan pada pertumbuhan bulunya, pada seluruh bulu tidak tumbuh bulu bendera, sehingga permukaan kulit nampak jelas. Namun kelainan tersebut tidak banyak berpengaruh pada kesehatan maupun daya tahan tubuh terhadap perubahan musim.

Ciri-Ciri Pejantan Ayam Cemara

  • Bobot rata-rata 2 kg.
  • Kepala berukuran sedang dengan bentuk oval memanjang.
  • Jengger tunggal berukuran sedang, bilah, bergerigi kecil-kecil dab berwarna merah kehitam-hitaman.
  • Pial sepasang, warnanya hitam.
  • Cuping telinganya kecil, warnanya juga hitam.
  • Paruhnya pendek, lurus, warnanya hitam dengan ujung abu-abu.
  • Matanya bundar besar, berwarna hitam.
  • Pertumbuhan bulu ketiak sempurna, tidak mempunyai bendera bulu, sehingga menyerupai landak. Yang tumbuh hanyalah batang bulu, jarang dan berwarna hitam kehijau-hijauan.
  • Kakinya berwarna hitam kehijau-hijauan, dengan sisik-sisik kecil teratur rapi.
  • Jari-jari kakinya besar dan pendek, warna hitam kehijau-hijauan.
  • Kuku-kukunya besar, tebal dan melengkung, warnanya hitam kusam.
  • Telapak kakinya halus, berwarna abu-abu kehitam-hitaman.
  • Tajinya pendek, besar, tetapi runcing sekali, berwarna hitam kusam.
Ciri-Ciri Betina Ayam Cemara

  • Berat kira-kira 1,5 kg termasuk ukuran sedang.
  • Jengger tunggal, bilah, berukuran kecil, tebal dan lemas, warnanya hitam kusam.
  • Pial sepasang, berukuran kecil, berwarna hitam.
  • Cuping telingan kecil sekali, berwarna hitam juga.
  • Paruh pendek, lurus, warnanya hitam kusam dengan ujung sedikit abu-abu kekuning-kuningan.
  • Mata bundar, besar, berwarna hitam.
  • Kaki kecil, bersisik kecil-kecil teratur rapi, warnanya hitam kehijau-hijauan.
  • Jari-jari kakinya hitam kehijauan, pendek tetapi kokoh.
  • Telapak kakinya halus dengan warna abu-abu kehitam-hitaman.
  • Kukunya pendek, melengkung dan runcing, berwarna hitam kusam.
  • Tidak berbendera bulu, jadi yang tumbuh hanyalah batang bulu berwarna hitam kehijau-hijauan.
  • Bertelur paling banyak hanya 10 butir per periode.
Ciri-Ciri Telur Ayam Cemara

  • Berbentuk oval memanjang, berukuran sedang dan berwarna putih opaque.
  • Penetasan harus dibantu mesin tetas dan hanya 1/3 saja yang dapat menetas




Jumat, 09 Desember 2016

Ayam Merawang Imigran Yang Menetap di Bangka

ASAL USUL AYAM MERAWANG



Ayam merawang adalah ayam lokal dari spesies Gallus-gallus, family Phasianidae. Pertama kali ayam Merawang dibawa oleh penambang timah dari daratan Cina ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda sekitar 300 tahun lalu. Dalam perkembangannya ayam ini sudah beradaptasi di daerah setempat sehingga ayam Merawang menjadi ayam lokal yang berasal dari Desa Merawang Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dan merupakan sumber genetik serta aset masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dapat dimanfaatkan dan harus dilestarikan.

Ayam Merawang berasal dari Kecamatan Merawang di Pulau Bangka, Propinsi Bangka Belitung.
Ayam ini didominasi warna cokelat, merah dan kuning keemasan, dengan bulu-bulu columbian (warna bagian ujung sayap dan ekor berwarna hitam). Warna kulit paruh dan ceker (shank) putih atau kekuningan, sedangkan warna mata kuning.

Rabu, 30 November 2016

Mengenal Ayam Burgo

Ayam burgo cukup dikenal di daerah Bengkulu dan sekitarnya, terutama di perdesaan. Untuk mengenal ayam burgo. Ayam ini mempunyai keunikan tersendiri dibanding ayam buras lainnya. Ayam burgo sebenarnya juga merupakan bagian dari populasi ayam buras piaraan, namun ayam burgo mempunyai genetik dari ayam hutan merah relatif lebih tinggi dibanding ayam buras piaraan. Warna bulu ayam burgo jantan didominasi oleh warna merah keemasan dan hijau gelap sebagai bentuk investasi dari parentalnya. Ayam burgo mempunyai tipe jengger tunggal bergerigi 5 buah yang lebar, tegak dan berjumlah 2 buah kiri dan kanan.
Ciri khusus yang dimiliki ayam burgo adalah adanya cuping telinga yang lebar dan berwarna putih baik pada yang jantan maupun betina. Cuping telinga putih pada jantan diameternya lebih besar bila dibandingkan dengan cuping telinga yang betina (Warnoto 2000). Warna putih pada cuping telinga digunakan sebagai criteria penilaian terhadap keaslian ayam burgo (F-nya). Warna bulu ayam burgo betina didominasi warna kuning kecoklatan dengan bagian pangkal ekor dan ujung sayap hitam. Ada banyak kesamaan cirri ayam burgo betina dengan cirri ayam burgo jantan. Namun demikian ada juga terdapat perbedaan yang Nampak. Pada kaki ayam burgo betina tidak mempunyai taji. Disamping itu, ayam burgo betina hanya mempunyai jengger kecil tipis.Secara fisik, ayam burgo mempunyai penampilan yang menarik dengan tubuh yang padat, kompak, dan lincah bergerak. Kalau dilihat dari aspek besar tubuhnya yang relatif kecil dan pendek, sepintas banyak masyarakat awam yang mengira ayam burgo sebagai ayam kate. Padahal pada kenyataannya ayam burgo bukanlah ayam kate. Keduanya memiliki perbedaan yang sangat jelas. Sayap ayam burgo relatif lurus sejajar badan, sedangkan sayap ayam kate agak terkulai ke bawah. Bila diamati dengan cermat, tubuh ayam burgo relatif lebih besar disbanding ayam kate. Perbedaan lain terletak pada kokok mereka. Kokok ayam burgo jantan mempunyai intonasi dan cengkok yang berbeda dengan kokok aym kate.



Ciri-Ciri Umum Ayam Burgo Adalah :

  • Tubuh terlihat kecil
  • Warna bulu kemerahan dan coklat
  • Jengger dan Pial berwarna merah
  • Paruh dan Kaki berwarna hitam
  • Cuping berwarna putih
  • Produksi telur – belum ada infonya
  • Bobot dewasa _ belum ada infonya


Potensi Ayam Burgo sebagai Ayam Hias. Ayam burgo jantan yang dipelihara sebagai ayam hias mempunyai nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual ayam buras lain. Di pasaran binatang piaraan, ayam burgo hias juga mempunyai harga yang relatif tinggi, bahkan ayam burgo jantan yang sering memenangkan beberapa perlombaan mempunyai nilai jual hingga mencapai jutaan rupiah.
Tingginya nilai jual ayam burgo jantan memberi peluang masyarakat untuk melakukan usaha ayam burgo hias. Peluang tersebut menyebabkan peningkatan mina masyarakat penggemar ayam hias untuk memelihara ayam burgo jantan. Kecenderungan ini terutama terjadi pada masyarakat perdesaan yang letaknya berdekatan dengan pusat perkotaan. Ayam hias ini bagi pemiliknya digunakan tidak hanya sekedar sebagai kesenangan tetapi juga dijadikan sebagai kebanggaan.
Potensi Ayam Burgo sebagai Ayam Peteluar. Ayam burgo betina termasuk ayam yang mempunyai produksi telur tinggi per periode bertelurnya. Dengan hanya mengandalkan pakan seadanya dan dibiarkan mencari pakan sendiri, ayam burgo betina mampu berkembang biak dengan cepat. Pada perdesaan di mana banyak terdapat ayam burgo, dapat dilihat ayam burgo betina induk berjalan bersama belasan bahkan puluhan anaknya. Pada sebagian perdesaan ayam ini bahkan diberikan julukan sebagai ayam ratus. Julukan ini sengaja diberikan untuk mengindikasikan bahwa ayam ini mampu berkembang dengan sangat cepat untuk menjadi seratus.
Pada umumnya pemeliharaan ayam burgo tidak berbeda jauh dengan pemeliharaan ayam buras lainnya. Pemeliharaannya masih bersifat tradisional dengan membiarkan ayam tersebut mencari pakan sendiri. Oleh karena itu, tidak jarang ayam burgo ini sifatnya setengah liar. Dia lebih suka ke hutan atau semak-semak pepohonan. Apabila ada pohon di sekitar kandang. Ia lebih banyak menghabiskan waktu tidurnya di atas pohon. Walaupun demikian, ini tidak mengurangi produktivitasnya dalam bertelur. Dengan dipelihara secara tradisional (umbaran) ayam burgo betina mampu memproduksi telur per periodenya mencapai 20-25 butir (Suahryanto, 2001). Sementara itu, waktu selang bertelur per periodenya lebih pendek disbanding masa selang bertelur ayam buras pada umumnya. Ayam burgo hanya membutuhkan mas selang bertelur 7-10 hari, sementara ayam buras lebih dari 15 hari. Harga jual telur ayam burgo (ayam buras) lebih tinggi dibanding harga jual ayam ras. Sampai saat ini masyarakat awam masih mempunyai anggapan bahwa telur ayam buras (burgo) memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada telur ayam ras.Populasi Ayam Burgo. Populasi ayam burgo menunjukkan adanya kecenderungan meningkat pada desa-desa yang lebih dekat dengan pusat kota atau kecamatan. Keadaan ini merupakan gambaran bahwa ayam burgo dipelihara masyarakat kearah sebagai hobi atau ayam hias. Populasi ayam burgo bervariasi di desa dengan lingkungan makro yang berbeda. Namun, variabilitas populasi tersebut tidak menunjukkan adanya keterkaitan dengan ketinggian tempat, curah hujan, suhu maupun pola pertanian di desa yang bersangkutan. (Penulis : Suwarna)


Sumber :
Dr.agr.Ir. Johan Setianto (2009), " Ayam Burgo Ayam Buras Bengkulu", Kampus IPB Taman Kencana Bogor, IPB Press.

Mengenal ciri Ayam Sumatra

Ayam Sumatra merupakan ayam asli Indonesia yang berkembang di Sumatra Barat. Oleh karena itu, ayam ini beri nama ayam sumatra. Ayam sumatra memiliki ciri-ciri, yaitu memiliki tenggorokan yang lebar, perawakan tubuhnya tegap dan kecil, kepalanya kecil, kulit dibagian muka berwarna merah atau hitam, paruhnya berwarna hitam dan pendek, jenggernya di tumbuhi sedikit bulu dan berwarna merah, telinganya kecil dan berwarna merah, dan ayam sumatra jantan memiliki berat batan sekitar 2 kg, sedangkan ayam sumatra betina memiliki berat badan sekitar 1,5 kg.



Ayam Sumatra pernah menjadi salah satu mata dagangan penting pada abad ke-19, dengan tujuan Eropa dan Amerika. Sebagai komoditas ekspor dari suatu daerah, tidak bisa disangkal betapa nama Sumatra menjadi terkenal saat itu di kedua benua tersebut. Di belahan dunia barat, pejantan ayam Sumatra diperlukan sebagai ayam hias karena bentuknya yang sedang-sedang, warna bulu yang beragam dan kokoknya sangat lain dengan ayam lokal. Sedang induk betina dikawin silangkan dengan pejantan lokal unggul hingga produktivitasnya cukup tinggi. (baca sejarah ayam sumatera)

Kamis, 22 September 2016

Ayam Ayunai asal PAPUA

#AyamKampus. Ayam Ayunai adalah unggas lokal berukuran sedang dari Merauke, Papua. Ayam Ayunai yang berpotensi dimanfaatkan dagingnya. Tepatnya ayam ini berkembang di Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Merauke. Sebarannya dominan di desa Besum dan Skamto kecamatan Nimborm dan Arso Kab. Jayapura.

Keunikan ayam ini terletak pada absennya bulu dari kepala hingga bagian atas tembolok,sehingga leher tampak polos alias gundul.

Kelemahan ayam ini seringnya terkena penyakit yaitu terkena cacing mata yang ditandai mata berair dan kelopak mata melebar. Cara pengobatannya dilakukan secara tradisional yaitu dengan memberi tetesan air daun tembakau atau daun the ke dalam mata.

ayam ayunai merupakan jenis Ayam Legund merupakan salah satu ayam lokal Indonesia yang mempunyai ciri leher tidak ditumbuhi bulu yang merupakan salah satu ayam lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ayam Legund pada umumnya dihubungkan dengan Turkens, Transilvania Naked Neck, Bare Necks, Hackleness, dan Rubber Necks, yang seluruhnya memilki karakteristik sifat leher gundul. Gen Na merupakan gen dominan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan bulu (lambat) pada bagian leher (Somes, 1993).

Ayam leher gundul merupakan salah satu ayam lokal yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai ayam penghasil daging. menunjukkan bahwa ayam legund mampu menampilkan pertambahan bobot badan yang lebih baik jika dibandingkan dengan ayam buras lain (Mu’in, 1992). Kelestarian ayam buras harus dijaga baik jumlah maupun keasliannya. Cara pemeliharaan juga perlu untuk diperhatikan agar ayam lokal tidak punah dan jumlahnya menjadi berkurang. Pemanfaatan ayam legund sebagai plasma nutfah penghasil daging hingga saat ini belum nampak. Ayam ini dianggap sebagai ayam buras biasa walaupun performans ayam legund nampak jauh lebih besar dibandingkan dengan ayam buras lain.

Saat ini populasi ayam Ayunai terus mengalami penurunan, diperkirakan hanya tersisa 2000 ekor.

  • Ciri-Ciri Umum Ayam Ayunai Adalah :
  • Tubuh terlihat sedang hingga besar
  • Bulu dominan berwarna hitam dengan bagian sayap berwarna putih
  • Kulit berwarna putih kemerahan
  • Jengger berwarna merah
  • Paruh dan kaki berwarna kuning kehitaman
  • Menghasilkan telur sekitar 14 butir per periode
  • Bobot dewasa jantan 3.3 Kg, sedangkan betina 2.8 Kg.

Ayam Ayunai adalah unggas lokal berukuran sedang dari Merauke, Papua.Keunikan ayam ini terletak pada absennya bulu dari kepala hingga bagian atas tembolok,sehingga leher tampak polos alias gundul.

Jumat, 09 September 2016

Disnak Papua upayakan ayam Ayunai disertifikasi sebagai hewan khas


Disnak Papua upayakan ayam Ayunai disertifikasi sebagai hewan khas
Ayam Ayunai yang merupakan hewan ternak khas Papua yang dipamerkan di stan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua pada even ICBE yang bertempat di GOR Jayapura. (Foto: Antara Papua/Hendrina Dian Kandipi)

 Pengembangan ternak ayam ayunai hingga kini populasinya menurun drastis karena masyarakat belum memahami dengan baik bahwa hewan ternak ini juga sama seperti ayam pada umumnya.

Kamis, 26 Mei 2016

Mengenal varietas ayam lokal Indonesia

Daftar 32 Ayam lokal asli Indonesia.

Indonesia dikenal sebagai salah satu pusat domestikasi ayam di Asia yang memiliki karakter gen yang khas dengan keragaman genetik yang tinggi.
Nataamijaya (2000), melaporkan bahwa di Indonesia setidaknya terdapat 32 galur ayam lokal asli yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ayam pedaging, petelur, petarung dan ayam hias.
Ironisnya, sebanyak 80% dari galur ayam ini terancam punah akibat kurangnya upaya pelestarian, ancaman penyakit dan meningkatnya popularitas ayam impor.
Ayam lokal asli adalah varietas ayam di suatu daerah yang telah mengalami seleksi dengan cara kawin silang atau budidaya secara khusus untuk menghasilkan turunan dengan sifat-sifat unggul.
Beberapa sifat unggul yang diinginkan diantaranya adalah: pertumbuhan yang cepat, produksi telur yang tinggi, sosok tubuh yang besar, rasa daging yang enak, resistensi terhadap penyakit, stamina yang baik, pertulangan kaki yang kuat, suara yang bagus serta bentuk dan warna bulu yang indah.
Pada edisi kali ini, Cakrawala mencoba untuk menyajikan secara ringkas profil dari masing-masing galur ayam lokal asli Indonesia dalam tiga seri tulisan yang disusun secara Alfabetikal.
Untuk meningkatkan kualitas ayam lokal, perlu ditetapkan standarisasi yang jelas dari masing-masing varietas, tatalaksana pembudidayaan yang baik, riset mendalam, pembentukan organisasai/koperasi/ komunitas, regulasi, jaringan pemasaran, sosialisasi serta penyuluhan di masyarakat.
Semoga tulisan ini dapat membantu sahabat semua untuk mengenal lebih jauh keragaman varietas ayam lokal asli Indonesia.

Kamis, 28 April 2016

LIPI Temukan Ayam Hutan Hijau Endemik Sumba


Nusa Tenggara Timur, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Tim Eksplorasi Bioresources yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Widya Nusantara (E-WIN) 2016 berhasil menemukan ayam hutan hijau (Gallus varius) endemik Sumba di Taman Nasional  Laiwangi Wanggameti, Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Humas LIPI pada Kamis (28/4), ayam hutan hijau tersebut merupakan ayam liar yang berbeda dengan ayam hutan merah (Gallus gallus) yang ada di Sumatera maupun Kalimantan. Perbedaan ayam hutan hijau dengan ayam hutan merah yang ada di bagian barat Indonesia adalah pada bentuk ranggah atau jenggernya. Ranggah ayam hutan hijau berbentuk lancip dan agak meninggi di bagian belakangnya. “Sementara ayam hutan merah dari Indonesia bagian Barat memiliki ranggah atau jengger yang sama tinggi depan belakang dan bagian atas yang bergelombang,” jelas Hidayat Ansari, peneliti sekaligus ahli ayam dari LIPI yang turut serta ekspedisi ke Sumba.

Tak seperti ayam hutan merah yang memiliki persebaran sampai ke daratan Asia, lanjut Hidayat, ayam hutan hijau ini memiliki daerah persebaran yang lebih sempit yaitu Nusa Tenggara, Bali dan beberapa kawasan terbatas di Jawa.

Dia menjelaskan, spesimen ayam hutan hijau endemik Sumba ini memiliki arti yang sangat penting untuk memetakan persebarannya di Indonesia karena ayam hutan ini merupakan salah satu tetua ayam kampung yang banyak dikenal di masyarakat. “Pemetaan tersebut akan dilakukan melalui analisis Deoxyribonucleic acid (DNA) dan akan dibandingkan dengan seluruh DNA ayam hutan dari berbagai wilayah Indonesia yang sudah pernah dikoleksi oleh Pusat Penelitian Biologi LIPI,” tutur Hidayat.

Sementara itu dalam kegiatan eksplorasi kawasan hutan Gunung Wanggameti, Koordinator Lapangan Ekspedisi, Oscar Effendy menuturkan, Tim Ekplorasi Bioresources tak hanya menemukan ayam hutan hijau endemik Sumba. Mereka juga telah berhasil menemukan dan mengoleksi berbagai jenis tumbuhan, hewan dan mikroba unik dan endemik di kawasan tersebut. Di kawasan hutan Gunung Wanggameti yang mencapai puncak tertinggi 1.222 m dpl, tim ekplorasi telah berhasil pula menemukan beberapa jenis tumbuhan dari famili Pandanaceae dari suku Freycinetia yang diduga jenis baru. “Di samping itu, beberapa jenis reptil seperti ular juga ditemukan di puncak tertinggi Wanggameti, tutup Oscar Effendy. (Andria Agusta-Koordinator Eksplorasi Bioresources IPH LIPI 2016/ed: pwd)

Sumber : LIPI

Rabu, 04 November 2015

Mengenal jenis ayam Kedu beserta ciri-cirinya

#AyamKampus. Ayam Kedu merupakan salah satu ayam lokal atau ayam buras di Indonesia atau lebih tepatnya dari Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Bila dilihat dari warnanya ayam kedu memiliki 3 jenis warna yaitu ayam kedu hitam, ayam kedu putih, serta ayam kedu lurik. dari ketiga jenis ayam kedu tersebut yang paling sering dijumpai adalah ayam kedu hitam dan yang lainnya sekarang jarang dijumpai.

Ayam kedu hitam sering disebut sebagai ayam cemani padahal dari keduanya memiliki perbedaan sebaran warna bulu walaupun keduanya sama-sama memiliki warna bulu hitam. untuk ayam kedu hitam biasanya sebaran warna bulu hanya pada bulunya saja, namun untuk ayam cemani sendiri sebaran warna hitam menyebar ke seluruh tubuhnya sehingga menjadikan keduanya memiliki perbedaan.

Bila dilihat dari asal usul ayam kedu, banyak versi yang memberitakan tentang Ayam kedu, salah satunya berasal dari Pak Tjokro yang mengemukakan bahwa ayam kedu berasal dari silangan antara ayam lokal dari daerah Dieng dengan ayam Dorking yang dibawa oleh Rafles yang akhirnya menghasilkan ayam kedu warna hitam. Namun kebanyakan orang ada yang belum paham betul membedakan mana itu ayam kedu atau ayam cemani padahal keduanya bisa dibedakan dengan ciri-cirinya karena keduanya memiliki ciri yang berbeda, bila kalian masih bingung membedakannya simaklah ciri-ciri ayam kedu dibawah ini.


  • Warna bulunya Hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
  • Tubuhnya tampak terlihat besar.
  • Kulit tubuhnya berwarna putih hingga hitam.
  • Jenggernya terlihat berwarna hitam kemerah-merahan.
  • Matanya terlihat berwarna hitam.
  • Paruh serta kakinya terlihat berwarna hitam.
  • Untuk ayam betinanya bisa menghasilkan sekitar 25 butir telur setiap periodenya.
  • Berat telurnya antara kisaran 50 sampai 60 gram untuk setiap butirnya.
  • Berat tubuh ayam kedu jantan atau betina yang sudah dewasa berkisar antara 1,5 sampai 2 kg.



Ragam Jenis Ayam kedu 

a. Ayam Kedu Hitam


Ayam kedu hitam mempunyai penampilan fisik hamper hitam semua, tetapi kalau diamati secara teliti warnanya tidak terlalu hitam. Penampilan kulit pantat dan jengger masih mengandung warna kemerah-merahan. Bobot ayam kedu hitam jantan dewasa antara 2 Kg – 2,5 Kg, sedangkan yang betinanya hanya 1,5 Kg. Ayam ini sering disamakan dengan ayam cemani karena tampak serba hitam.

b. Ayam Kedu Cemani


Ayam kedu cemani memiliki penampilan sosok tubuh hitam mulus, termasuk paruh, kuku, telapak kaki, lidah, telak (langit-langit mulut), bahkan daging dan tulangnya juga hitam. Sosok tubuh ayam kedu jantan dewasa tinggi besar dan bobotnya antara 3 Kg- 3,5 Kg, sedangkan yang betina dewasa berbobot antara 2 Kg- 2,5 Kg .

c. Ayam Kedu Putih

Ayam kedu putih ditandai dengan warna bulu putih mulus, jengger dan kulit mukanya berwarna merah, sedangkan kakinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Jenggernya tegak berbentuk wilah. Bobot ayam jantan kedu putih dewasa mencapai 2,5 Kg. Sedangkan bobot ayam kedu putih betina 1,2 Kg – 1,5 Kg.

d. Ayam Kedu Merah


Ayam kedu merah ditandai dengan warna bulu hitam mulus, tetapi kulit muka dan jengger berwarna merah, sedangkan kulit badannya berwarna putih. Sosok tubuh ayam kedu merah tinggi besar dengan bobot ayam jantan dewasa 3 Kg-3,5 Kg, Sedangkan bobot ayam betina 2 Kg-2,5Kg.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai Ayam kedu yang di sertai ciri-cirinya, semoga ini bisa berguna dan bermanfaat untuk kalian semua, sekian dan terima kasih.

Sabtu, 17 Januari 2015

Ayam Ketawa Si Jantan Dari Timur




Add caption
AYAMkAMPUS. Ayam Ketawa adalah varietas ayam yang berasal dari Sidenreng Rappang (Sidrap), sekitar 184 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan. Ayam ini dinamai demikian karena bunyi kokokannya yang menyerupai bunyi ketawa manusia. Ayam Ketawa juga disebut sebagai ayam manugaga (Manu =ayam dan gaga =ketawa).


Ayam ketawa adalah ayam yang bisa membawa hoki bagi pemiliknya, hoki bisa ikutan ketawa dan hoki karena memang Ayam Ketawa adalah Ayam yang langka, yang tentunya jika dijual menghasilkan keuntungan yang menggiurkan. Apakah Ayam Ketawa ini memang bisa ketawa? Ya memang , Ayam Ketawa ini memang suara kokoknya seperti layaknya suara ketawa manusia pada umumnya.


Ayam Ketawa itulah namanya, ayam yang satu ini bukan ayam pada umumnya. Meskipun bentuknya terkesan sama tetapi Ayam Ketawa memiliki suara yang unik. Suara Ayam yang menyerupai suara manusia tertawa memberikan kebanggaan sendiri bagi pemiliknya.

Asak mula penamaan Sejarah dan Asal Muasal ayam Ketawa


Ayam ini diberi nama ayam ketawa karena suara kokoknya menyerupai orang yang sedang tertawa. Ayam ini juga dipercaya masyarakat setempat dapat mendatangkan keberuntungan

Konon Pemilik Ayam Ketawa pada zaman dahulu sangatlah langka, mengingat pemiliknya rata-rata kaum bangsawan.Etika dan Rasa hormat kepada kaum bangsawan khususnya anggota kerajaan membuat Ayam Ketawa disegani dan menjadi simbol pada masyarakat tertentu.

Asal muasal ayam ketawa berasal dari daerah Sidrap atau Sidenreng Rappang (Sulawesi Selatan).Di daerah Sidrap inilah terdapat Satu Jenis Ayam yang berbeda suaranya daripada Ayam yang lain.Walaupun secara umum menyerupai Ayam yang lain,tetapi pada ujung berkokoknya menyerupai suara orang ketawa.Ada juga yang menyerupai burung gagak sehingga disebut Ayam Gagak.

Ayam ini oleh sebagian masyarakat sidrap, Sulawesi seperti Andi Tamrin Husein asal Rappang, Pangarinjang (Bangsawan) dan Andi Ullah asal Sidrap diceritakan sudah ada sejak jaman kerajaan Bugis. Ayam Ketawa dulunya hanya dipelihara oleh keluarga kerajaan. Dan menjadi symbol status sosial dan masyarakat jarang memeliharanya karena rasa segan dan hormat pada rajanya saat itu. Sehingga berdampak perkembangan ayam ketawa yang terbatas, tidak seperti perkembangan ayam kampung.

Di Sulawesi sendiri tempat asalnya ayam ketawa, hanya ditemakan didaerah Baranti, Panca Rijang, Benteng, Simpo Arasi’e, dan hanya dipelihara dilingkungan keluarga, Ayam ketawa hanya bisa dihasilkan dari induk dan jantan ayam ketawa, ayam ketawa jantan disebut lai, sedangkan Ayam ketawa Betina disebut Birang. Menurut toko masyarakat Sulawesi H A Lala dari kampong Lepangan, Binrang dan Pumini dari kampong Baranti, pada masa kerajaan Bugis, ayam ketawa hanya ada dikawasan Baranti, Benteng, Paseno itupun hanya dikembangkan secara turun temurun.

Kawasan Sidrap (sidenreng Rappang) selama ini dikenal masyarakat sebagai lumbung padi Sulawesi selatan, namun sebenarnya daerah dengan tanah subur ini memiliki satu potensi unggulan di bidang perunggasan yang belum dibudidayakan secara maksimal. Di daerah sidrap terdapat satu jenis ayam yang berbeda dengan ayam yang selama ini kita kenal, ayam tersebut memiliki ciri khas dari suara yang sangat unik kalau berkokok.
Ayam jantan dari timur

Pada jaman dahulu ayam ketawa ini dipelihara dan diternak oleh para bangsawan di kerajaan Bugis, Sulawesi Selatan. Ayam ketawa merupakan simbol status sosial dan budaya bangsawan yang gagah berani, pantang menyerah, dan sukses[2]

Secara fisik, unggas yang juga dikenal dengan sebutan Ayam Jantan dari Timur ini hampir mirip dengan ayam kampung biasa. Mulai dari bentuk, ukuran, gerak-gerik dan warna warni bulunya menyerupai ayam kampung. Mengembakbiakkan dan memelihara unggas ini juga tak sulit, sama seperti ayam lainnya.
Bedanya, ayam ketawa sudah bisa berkokok sejak berusia tiga bulan.Namun bagi orang yang baru pertama mendengarnya, suara kokoknya lebih mirip burung perkutut. Terdapat tiga jenis ayam yang ketawa. Pertama adalah Gretek, ayam Ketawa yang mengeluarkan suara orang ketawa dengan jarak antara suara tertawa cepat saat berkoko

Ciri khas ayam Ketawa


Secara Fisik ayam tersebut hampir sama dengan ayam biasa, Kokok Ayam Sidrap, pada ujung suara kokok seperti orang ketawa, Jenis ketawanya bermacam-macam. Didaerah asalnya ayam ini disebut Ayam Gaga’, tetapi karena suara kokoknya seperti orang ketawa, maka ayam ini di sebut Ayam Ketawa.

Bentuk jengger bagian belakang menempel dengan tempurung kepala. Apa yang membedahkan suara koko ayam ketawa dengan ayam lainnya, yakni terletak pada pita suaranya. Bila anda memegang lehernya dan meraba bagian pangkal leher, yaitu pita suara, maka bentuknya aneh, pita suara ayam ketawa ternyata terputus. Tidak seperti pita suara ayam yang besar menyambung. Maka tak heran bila saat berkokok ayam ketawa ini mengeluarkan kokok yang terpatah patah. Sehingga suaranya mirip suara orang ketawa.

Jenis-jenis Ayam Ketawa


Ayam Ketawa hanya dapat ditemukan di kampung Baranti, Panca Rijang, benteng, Simpo Arasi’e dan sekitarnya yang dipelihara dalam lingkungan keluarga, Ayam Ketawa atau Ayam Gaga’, hanya dapat dihasilkan dari perkimpoian sejenis.

Arti Warna Ayam Ketawa Antara Kepercayaan dan Keindahan

Dilihat dari warna baku Ayam Ketawa, Menurut M.Yusuf MD, dan Toko Masyarakat lain, Ayam Ketawa yang digemari oleh masyarakat Bugis percaya bahwa warna yang terdapat pada seekor ayam ketawa memiliki arti atau makna, sehingga sebagian hobis ayam ketawa percaya atau memiliki kepercayaan teretentu pada ayam ketawa ini. Adapun arti warna dari ayam ketawa :


  1. Bakka : Warna dasar putih mengkilapdengan dihiasi warna dasar hitam, oranye, merah dan kaki hitam atau putih, arti dari warna ayam ketawa ini adalah mengembangkan harta dari pemiliknya.
  2. Ceppaga Bolong : Warna dasar Hitam dengan dihiasi warna dasar hitan dan putih, ditambah bintik putih dibadan sampai pangkal leher dengan kaki hitam, arti dari ayam ketawa ini sendiri adalah adanya harta.
  3. Koro : Artinya menunjukan suatu tempat dan seolah olah ayam ini menunjukan disana ada sesuatu atau harta.
  4. Lappung : Artinya Menampung harta, dalam kepercayaan sebagian suku Bugis dapat menampung harta.
  5. Ijo Buota : Artinya dapat membuat harta lebih lama atau abadi.



Sehingga akhir- akhir ini banyak peminat yang mulai mengembang biakan ayam ketawa selain ayam ketawa langka juga suara ketawa nya merdu bahkan terkadang ada yang terdengar lucu atau mengerihkan, dan juga setiap warna mempunyai arti yang positif.


Senin, 02 September 2013

Keanekaragaman hayati pada ayam di Indonesia

Keanekaragaman hayati adalah seluruh bentuk kehidupan di bumi beserta interaksi diantara spesies dan spesies dengan lingkungannya.


Secara sederhana ada tiga tingkat Keanekaragaman hayati yaitu keanekaragaman gen, keanekaragaman jenis, dan keanekaragaman ekosistem yang akan di ulas berikut ini.

Keanekaragaman Gen

Keankeragaman pada tingkatan gen merupakan keanekaragaman yang paling rendah. Sifat-sifat individu dibawa oleh Gen yang terdapat di dalam kromosom. Inti sel atau nukleus adalah rumah dari Kromosom. Keanekaragaman gen akan memunculkan varietas, dan setiap varietas memiliki sifat-sifat khas. Sifat yang tampak disebut fenotip dan sifat yang tidak tampak disebut genotif.
Contoh keanekaragaman hayati tingkat gen adalah keanekaragaman warna bunga mawar yaitu warna merah, putih, kuning dan merah muda. Contoh yang lain itu pada ayam, kita dapat membedakan bentuk pada ukuran tubuh, warna bulu, dan bentuk pial atau jengger antar ayam kampung.

Kenakeragaman Jenis

Keanekeragaman jenis merupakan seluruh variasi pada makhluk yang berbeda spesiesnya dan dapat diamati dengan mudah. Contoh keanekaragaman hayati tingkat jenis yaitu hutan hijau, ayam hutan sumatera . Untuk mengetahui keanekaragaman hayati tingkat jenis, salah satu caranya adalah dengan mengamati ciri-ciri fisiknya, misalnya bentuk ukuran tubuh, warna, kebiasaan hidup, dan lain-lain tentunya diantara mereka terdapat perbedaan-perbedaan sifat yang mencolok.


Saat ini terdapat 4 spesies ayam hutan yang semuanya hanya tersebar di Asia 

 Keempat jenis ayam hutan tersebut adalah:
  1. Ayam hutan merah/Red Junglefowl (Gallus gallus, Linnaeus, 1758)
  2. Ayam hutan abu-abu/Grey Junglefowl (Gallus sonneratii Temminck, 1813)
  3. Ayam hutan Srilangka/Ceylon Junglefowl (Gallus lafayetii, Lesson 1831)
  4. Ayam hutan hijau/Green Junglefowl (Gallus varius Shaw, 1798)

Gambar 1. Jenis-jenis ayam hutan Jantan. Searah jarum jam: Ayam hutan abu-abu Gallus sonneratii (kiri atas), Ayam hutan merah Gallus gallus (kanan atas), Ayam hutan Srilangka Gallus lafayetii (kanan bawah) dan Ayam hutan hijau Gallus varius (kiri bawah).