Sabtu, 28 Januari 2017

Malaikat selalu ada di dekat kita.


Apabila kamu mendengar kokok ayam jantan, maka mohonlah kemurahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena pada saat itu ayam tersebut sedang melihat malaikat.
Sebaliknya, apabila kamu mendengar ringkikan keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari segala kejahatan syetan. Karena pada saat itu, keledai tersebut melihat syetan. [HR. Muslim No.4908].

#AnimalWelfare | Kesejahteraan Satwa


Defenisi Animal welfare atau kesejahteraan satwa adalah suatu keadaan fisik dan psikologi hewan sebagai usaha untuk mengatasi lingkungannya.
Berdasarkan UU No.18 tahun 2009 Animal Welfare adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia.
Animal Welfare memiliki 3 aspek penting yaitu : Welfare Science, etika dan hukum.
Welfare science mengukur efek pada hewan dalam situasi dan lingkungan berbeda, dari sudut pandang hewan.
Welfare ethics mengenai bagaimana manusia sebaiknya memperlakukan hewan. Welfare law mengenai bagaimana manusia harus memperlakukan hewan.
Animal welfare berbicara tentang kepedulian dan perlakuan manusia pada masing-masing satwa, dalam meningkatkan kualitas hidup satwa secara individual.
Sasaran Animal Welfare adalah semua hewan yang berinteraksi dengan manusia dimana intervensi manusia sangat mempengaruhi kelangsungan hidup hewan, bukan yang hidup di alam. Dalam hal ini adalah hewan liar dalam kurungan (lembaga konservasi, entertainment, laboratorium), hewan ternak dan hewan potong (ternak besar/kecil), hewan kerja dan hewan kesayangan.
Cara untuk menilai kesejahteraan hewan dikenal dengan konsep “Lima Kebebasan” (Five of Freedom) yang dicetuskan oleh Inggris sejak tahun 1992. Lima unsur kebebasan tersebut adalah:
1. Bebas dari rasa lapar dan haus
2. Bebas dari rasa tidak nyaman
3. Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit
4. Bebas mengekspresikan perilaku normal
5. Bebas dari rasa stress dan tertekan.
Kelima faktor dari 5 kebebasan saling berkait dan akan berpengaruh pada semua faktor apabila salah satu tidak terpenuhi atau terganggu.
Bebas dari rasa lapar dan haus dimaksudkan sebagai kemudahan akses akan air minum dan makanan yang dapat mempertahankan kesehatan dan tenaga. Dalam hal ini adalah penyediaan pakan yang sesuai dengan species dan keseimbangan gizi. Apabila keadaan ini gagal dipenuhi maka akan memicu timbulnya penyakit dan penderitaan.
Bebas dari rasa tidak nyaman dipenuhi dengan penyediaan ingkungan yang layak termasuk shelter dan areal istirahat yang nyaman.
Apabila keadaan ini gagal dipenuhi maka akan menimbulkan penderitaan dan rasa sakit secara mental yang akan berdampak pada kondisi fisik dan psikologi hewan.
Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit meliputi upaya pencegahan penyakit atau diagnosa dan treatmen yang cepat. Kondisi ini dipenuhi melalui penerapan pemeriksaan medis yang reguler. Apabila kondisi ini terabaikan maka akan memicu timbulnya penyakit dan ancaman transmisi penyakit baik pada hewan lain maupun manusia.
Sementara bebas mengekspresikan perilaku normal adalah penyediaan ruang yang cukup, fasilitas yang tepat dan adanya teman dari jenis yang sama. Apabila keadaan ini tidak terpenuhi maka akan muncul perilaku abnormal seperti stereotype, dan berakhir dengan gangguan fisik lainnya.
Faktor terakhir adalah bebas dari rasa takut dan tertekan yaitu memberikan kondisi dan perlakuan yang mencegah penderitaan mental. Stress umumnya diartikan sebagai antithesis daripada sejahtera.
Distress merupakan kondisi lanjutan dari stress yang mengakibatkan perubahan patologis. Lebih lanjut kondisi ini terlihat pada respon perilaku seperti menghindar dari stressor (contoh: menghindar dari temperatur dingin ke tempat yang lebih hangat dan sebaliknya), menunjukkan perilaku displacement (contoh; menunjukkan perilaku display yang tidak relevan terhadap situasi konflik dimana tidak ada fungsi nyata), dan bila tidak ditangani akan muncul perilaku stereotipik yang merupakan gerakan pengulangan dan secara relatif kelangsungan gerakan tidak bervariasi dan tidak punya tujuan jelas.

Kamis, 12 Januari 2017

Mengenal Sosok Tunov : Petani Cabai Magelang yang dimusuhi Para Mafia Tengkulak

#AyamNgampus. Tahun 2010 petani cabai di Magelang, Tengah, terpukul akibat harga jual cabai terjun bebas hingga Rp 2.000 per kilogram. Ratusan petani bangkrut dan terjerat utang. Belajar dari peristiwa itu, Tunov Mondro Atmodjo turun ke ladang untuk mengurai akar masalah.

Pemuda berusia 34 tahun itu mengedukasi para petani cabai dengan lahan kurang dari 3.000 meter persegi di Dusun Tanggulangin, Desa Girikulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ia tak menyentuh petani besar yang lahannya di atas 1 hektar.

”Cabai itu bukan komoditas yang bisa disimpan lama. Pengembangan tanaman cabai di lahan yang luasnya kurang dari 3.000 meter persegi lebih efektif. Panennya akan maksimal dan harga terjaga sesuai ongkos budidaya,” tutur Tunov.

Oleh karena itu, alih-alih mengejar peningkatan produksi cabai, ia memilih membangun kesadaran petani pada seluk-beluk bisnis cabai. ”Saya mengubah pola pikir petani mengenai budidaya cabai, mulai dari pemeliharaan hingga penanganan pasca panen,” kata Tunov, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Giri Makmur, Kabupaten Magelang, ini.

Cabai bisa dipanen mulai umur 90 hari sampai 6 bulan. Setiap minggu pada musim panen, cabai bisa dipetik 2-3 kali. Satu pohon menghasilkan sekitar 115 cabai dan 1 kilogram (kg) setidaknya 350 cabai.

Kalau harga jual terendah Rp 15.000 per kg, petani memperoleh hasil bersih Rp 5 juta. Idealnya, harga jual cabai di tingkat petani minimal Rp 20.000 per kg supaya petani untung 20 persen. Kenyataannya, harga cabai sering jatuh karena adanya mafia.

Mereka bisa menekan harga di tingkat petani serendah mungkin, kemudian menjual harga cabai di pasar setinggi mungkin. Akibatnya, harga cabai tak terkendali dan menjadi pemicu inflasi.
Perang Bisnis cabai memang menggiurkan. Setiap hari Jakarta saja membutuhkan pasokan 120 ton cabai. Pemasok cabai menyetor jam berapa pun pasti diterima pasar. Sayang, jalur distribusi cabai dari petani ke pedagang pasar dikuasai mafia. Akibatnya, perbedaan harga jual di tingkat petani dan harga jual di pasar bisa sampai 120 persen.

Tunov ingin petani setidaknya bisa menguasai 30 persen pasar cabai di Jakarta. Menurut dia, kunci dalam bisnis cabai sederhana. Siapa yang menguasai cabai pasti menguasai pasar. Karena itu, Tunov membuat jalur pemasaran tunggal sejak 2015. Ia melarang petani menjual cabai sendiri-sendiri.
Cabai yang dipanen dikumpulkan di rumah kelompok tani. Ia lalu memanggil pedagang untuk membeli cabai secara lelang. Penjualan cabai bisa dilakukan tanpa lewat tengkulak atau mafia cabai. Harga cabai di tingkat petani pun meningkat. Selain itu, sebagian cabai dikirim langsung ke pasar induk di Jakarta. Mereka menyebut strategi ini ”operasi pasar”.

Meski risiko ”operasi pasar” cukup besar, strategi ini ampuh menghancurkan monopoli mafia. Ia bercerita, Oktober lalu harga cabai di pasar merangkak di kisaran Rp 45.000 per kg. Dia dan kawan-kawan melancarkan ”operasi pasar” ke Jakarta. Mereka membanderol cabai segar Rp 20.000 per kg. Dalam dua jam, cabai mereka ludes terjual.

Mafia cabai yang berharap mendapat untung besar dari ”menggoreng” harga pun merugi. Ada tengkulak yang rugi hampir Rp 2 miliar akibat gelontoran cabai segar Tunov dan kawan-kawan.
Gerakan Tunov dan para petani itu mendapat perlawanan. Sejumlah tengkulak menebar teror dan ancaman kepada petani dan pedagang yang menerima pasokan cabai dari Magelang. Namun, Tunov dan kawan-kawan tetap bergeming.

Berkat usaha keras mereka, harga cabai di tingkat petani bisa menguntungkan. Gerakan mereka juga mendapat dukungan para petani cabai lainnya, bahkan yang berasal dari kecamatan lain, seperti Grogol, Kajoran, Dukun, Pakis, dan Kopeng di Kota Salatiga.

Gapoktan Giri Makmur yang dipimpin Tunov semakin berkembang. Anggotanya kini berjumlah 700 petani yang tersebar di Kecamatan Secang dan Grabag.

Gerakan mereka juga memengaruhi harga jual cabai di pasar Jakarta. Jadilah Tunov sering diajak rembuk di tingkat Kementerian Pertanian dan instansi lain untuk menemukan formula pertanian dan tata niaga cabai di tingkat nasional. Ia menjadi satu dari sembilan petani andalan cabai dari sejumlah daerah di Indonesia.

Anak petani
Pertanian lekat dengan kehidupan Tunov. Sang 
ayah, Martoyo Cokro Miharjo, adalah petugas penyuluh pertanian sekaligus sahabat petani, khususnya petani cabai.

”Orangtua saya memberi nama Tunov karena saya lahir pada tujuh November,” kata Tunov, petani cabai di lereng Gunung Merbabu ini seraya tertawa.

Sebelum menjadi petani cabai, Tunov sempat mengambil jalan hidup lain. Dia memilih bersekolah di Akademi Seni Rupa dan Desain Modern, School of Design Yogyakarta. Setelah itu, dia sempat bekerja dalam industri film. Tunov antara lain pernah menjadi produser film dan bekerja dengan Deddy Mizwar pada 2009.

Baru pada 2013 Tunov memutuskan kembali ke ”akar” kehidupan masa kecilnya, yakni pertanian. Tanpa merasa canggung sedikit pun, dia kemudian mengolah tanah dan menanam cabai di lahan milik bersama para petani.

Tunov kemudian menikmati kehidupannya sebagai petani. Dia kembali akrab dengan para petani, hingga diangkat sebagai pembina petani pada 2013. Belakangan, setelah ia berhasil menggunting cengkeraman mafia, budidaya cabai semakin ramai dan menyebar di Magelang dan sekitarnya.
Melihat keberhasilan itu, Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah selaku ketua tim pengendali inflasi daerah tertarik dengan pola pengembangan cabai yang dilakukan Gapoktan Giri Makmur.
Instansi itu lantas memberikan tugas kepada dia untuk menyiapkan sekitar 6.000 benih cabai. Bibit itu nantinya akan ditanam para ibu dalam program Kampung Cabai di 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

”Kalau satu desa menanam 15.000 pohon cabai sudah setara dengan menanam pohon cabai 1 hektar. Para ibu bisa menanam cabai di rumah, cukup 10-20 pohon cabai di polybag. Hasilnya bisa mencukupi kebutuhan mereka sendiri,” ujar pria lajang tersebut.
Gerakan ini digulirkan guna mendorong swasembada cabai untuk rumah tangga. Tujuannya para ibu tetap bisa membuat sambal meski harga cabai melangit.


**
Tunov Mondro Atmodjo
Lahir:
Magelang, Jawa Tengah, 7 November 1982
Pendidikan:
SMA Muhammadiyah Magelang, 2001
Akademi Seni Rupa dan Desain Modern School of Design, Yogyakarta, 2005
Pekerjaan:
Pembina petani cabai di Magelang dan sekitarnya, 2013
Organisasi:
Ketua Gabungan Kelompok Tani Giri Makmur, Kabupaten Magelang
Penghargaan:
Petani Penggerak Cabai, Kementerian Pertanian 2016
Pemuda Berprestasi Bidang Pertanian, Kementerian Pertanian 2016
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 November 2016, di halaman 16 dengan judul "Menggunting Mafia Bisnis Cabai".

Rabu, 11 Januari 2017

#CabecabeanMahal alhamdulillah

Dari kemarin nunggu analisa senior dan dosen pertanian atau dari para senior di agribisnis apa penyebabnya cabe mahal ?

Kebetulan tadi di sapa seorang kawan, eh loe bang jack ente sarjana pertanian bijimana ni cabe, masa suruh tanem kagak bener presiden loe.

Masih mending bisa di tanam, tumbuh berbuah, kalau enggak?

Gw ketawa ngakak..... kwkkwkw

yeee somplak loe malah ngakak.

"Gw bayangin kalau telor naik elo di suruh ngeden sama jokowi bakalan keluar tai dahhh kwkwkwkwk,  buset dah dasar  yee loe."

Orang taunya di hilirnya tapi mana pernah tau hulunya produk pertanian bagaimana?

Dalam 6 bulan terakhir dmana terjadi musim kemarau basah yang mana musim hujan lebih tinggi yang mau tidak mau terjadi gangguan pada stok hasil produksi pertanian. Mungkin cabe yang imbasnya nyata karena busuk kering, dan hamanya lebih rentan sehingga gangguan produksi yang mengakibatkan stok langka di pasaran.

Hukum ekonomi bermain, permintaan tinggi, stok terbatas maka akan menaikkan harga suatu komuditas. Apalagi sentra pertanian hortikultura untuk jenis cabe-cabean terbatas di indonesia, dan laporan BMKG semua wilayan indonesoa sejak bulan agustus 2016 hingga januari 2017 penghujan meratakan.

Dan pemerintah memang sejak jaman soeharto gak pernah mampu mengatasi masalah harga produksi dari hasil pertanian. Semua di biarkan terjun bebas di pasar, dimana mekanis pasar yang menentukan. Kembali pada hukum ekonomi suplay and demand.

Mau cabe lagi stok banyak mau stok dikit harga tidak pernah stabil, begitupun komuditas lainnya bawang putih, berambang, ayam, daging sapi dll. Karena negara memamg tidak pernah hadir menciptakan pasar yang samasama memberikan keadialan sosial bagi rakyat.

Pasar di atur oleh preman-preman yang benamana tengkulak, harga di tentukan oleh mereka dan nasip petani tak pernah sejahterah sampai kapanpun jika negara tidak pernah hadir ?

Lalu bagaimana dengan akademisi?

Tak banyak yang bisa di harapkan dari dunia kampus baik dari segi produksi maupun dalam mengatur pasar, nyatanya tak banyak hasil riset tentang cabe cabean dari kampus yang menjadi unggulan petani, semuanya benih maupun tentang produksi cabe swasta punya, apalagi mengandalkan dinas pertanian, ada nunggu sppd cair baru kelapangan.

Karena sejak orba semua sektor pertanian dari hulu hingga hilir sudah di kuasai konglomerasi siapa kuat modal merekalah pemenangnya.

Mau kaya jangan jadi petani, mau kuliah jangan di pertanian karena tamat kerja kau mana mau kembali ke desa mensejahterahkan petani

Kalau jokowo bilang, tanem sendiri, ya cerdas beliau, mau murah tanem sendiri, mau telor, ya nunggu si ayam ngeden lah.

Artinya, kembali pada basic bahwa pertanian gurem adalah bentuk kedaulatan pangan,  setidaknya untuk rumah tangga kebutuhan tercukupi, kalau sekarang di sebut urban farming, bercocok tanamnlah di lahan pekarangan rumah, gak ada tanah, pakai polibag, atau dengan hydroponic gak takut hasil yang kita makan dengan namanya peptisida. Semuanya pasto #organik

Mari berdiskusi ciptakan petani yang kuat dan sejahterah, jangan cengeng baru cabe mahal, kalo beras mahal, gak bisa import bakalan kelar hidup loe.

Oleh :Jack sarjana pertanian calon master segala ilmu