Senin, 26 Desember 2016

Ayam Arab Si Petelur Yang Hidjrah

#AyamNgampus. Ayam ini merupakan keturunan dari Ayam Brakel Kriel-Silver dari Belgia Disebut Ayam Arab karena dua hal: pejantannya memiliki daya seksual yang tinggi dan keberadaannya di Indonesia melalui telurnya yang dibawa oleh orang yang menunaikan ibadah haji dari Mekah.
Kebanyakan masyarakat memanfaatkan Ayam Arab karena produksi telurnya tinggi, mencapai 250-260 butir per tahun dengan berat telur 40-45 gram. Bahkan hen day puncak produksi dengan pemeliharaan intensif dapat mencapai 80%.  Kuning telur lebih besar volumenya, mencapai 53,2% dari total berat telur. Warna kerabang sangat bervariasi yakni putih, kekuningan dan coklat. Warna kulit yang kehitaman dengan daging yang lebih tipis dibanding ayam kampung menjadikannya jarang dimanfaatkan sebagai pedaging.
Ayam Arab mudah dikenali dari bulunya. Pada sepanjang leher berwarna putih mengkilap, bulu punggung putih berbintik hitam, bulu sayap hitam bergaris putih dan bulu ekor dominan hitam bercampur putih. Sedang jenggernya berbentuk kecil berwarna merah muda dan mata hitam dengan dilingkari warna kuning. Ciri lain Ayam Arab adalah pejantannya pada umur 1 minggu sudah tumbuh jengger, dan betina induk tidak memiliki sifat mengeram. Dari penampilan tubuhnya, tinggi Ayam Arab dewasa mencapai 35 cm dengan bobot 1,5-2 kg. Kepalanya mempunyai jengger berbentuk tunggal dan bergerigi. Ayam ini berbulu tebal. Bulu di sekitar leher berwarna kuning dan putih kehitaman. Warna bulu badannya putih bertotol-totol hitam. Kokok suara jantan nyaring. Ayam Arab betina dewasa tingginya mencapai 25 cm dengan bobot 1,0-1,5 kg. Kepalanya berjengger tipis, bergerigi. Badannya berbulu tebal. Selama usia produktif antara 6 bulan - 1,5 tahun, betina arab terus-menerus bertelur, sehingga hampir setiap hari menghasilkan telur.
Secara genetis Ayam Arab tergolong galur ayam buras yang unggul, karena memiliki kemampuan produksi telur yang tinggi. Kebanyakan masyarakat memanfaatkan Ayam Arab untuk menghasilkan telur bukan daging karena Ayam Arab memiliki warna kulit yang kehitaman dan daging tipis dibanding ayam buras biasa sehingga dagingnya kurang disukai masyarakat.
Keunggulan Ayam Arab antara lain:
- Harga DOC tinggi dibandingkan ayam kampung biasa 
- Berat telur 40-45 gram. 
- Warna kerabang telur putih 
- Harga induk tinggi 
- Ayam Arab termasuk tipe ayam kecil sehingga konsumsi pakan relatif lebih sedikit sehingga lebih efisien 
- Libido seksualitas jantan lebih tinggi, mudah dikawinkan dengan ayamayam lain, dalam 15 menit bisa tiga kali kawin 
- Bisa dijadikan untuk perbaikan genetik ayam buras Sifat mengeram hampir tidak ada, sehingga waktu bertelur panjang.
Kelemahan Ayam Arab antara lain: 
- Wama kulit dan daging hitam sehingga harga jual afkirnya bisa menimbulkan masalah 
- Sifat mengeram hampir tidak ada, sehingga apabila dikembangkan di masyarakat harus ditetaskan di mesin tetas atau menggunakan ayam lain 
- Harus dipelihara secara intensif untuk mendapatkan produksi tinggi sesuai dengan kemampuan genetisnya

Sumber :BPTU Sembada

Mencetak Ayam Brucem | Brugo Vs cemani

#AyamNgampus. Tentunya pecinta ayam hias sudah biasa melakukan kawin silang antar strain, berbagai macam jenis ayam.

Kebetulan mendapat biang induk betina ayam cemani yang merupakan jenis ayam yang memiliki performa serba hitam, dari bulu, kaki, jengger lidah bahkan darahnya hitam, hahahha kalau darah belum di tes, katanya si ayam bertuah, namun menurut saya emang bertuah apalagi dipakai buat perdukunan semakin tambah kafir dah. Bertuah disini maksudnya hehehe harga jualnya mahal.

Nah kali saya mencoba membuat uji persilangan antara pejantan f1 ayam burgo yang disilangkan dengan betina ayam cemani, apa hasilnya?





Dari berbagai Sumber coba di searching ternyata sudah ada yang mencoba, kira-kira seperti ini,hemmm



Nah tunggu update berikutnya dari uji kawin silang di kandang ayamNgampus.

Menghadapi Maling Ayam


AyamNgampus. #MalingAyam, lagi marak rupanya para pemilik ternak di Bengkulu di hantui rasa cemas kandangnya yang di bobol oleh manusia pendosa,  #pesanBangNapi.

1. Waspada terhadap para pembeli, bisa jadi 1 diantara yang berkunjung, nawar di kandang merupakan pelaku.

2. Waspada pada posting dalam group, bisa jadi 1 diantara anggota groups adalah pelaku, yang menyamar menjadi pembeli.

3. Tetap selalu awas, biasanya pelaku berkomplot, sudah merencanakan, dan menghetahui denah kandang.

4. Sebagian besar ayam yabg di incar merupakan ayam aduan, ayam hias, kalaupun ayam kampung yang di angkut pasti apes, karena resiko lebih besar dari pada uang yang di dapat dari hasil jual.

5. Buatlah kunci gembok, atau pasang klenengan, lonceng, kaleng2 yang di rakai pada pintu2 kandang dan akan berbunyi jika rantai gembok ada yang buka.

6. #MalingAyam resikonya babak belur lebih besar, mau kayak ayam sayur tarung dengan bangkok. ?

7. Selalu waspada. Kandang di incar kawan. Kalau transaksi ada baiknya di jalan atau ketemu bukan di kandang dewek. Jika anda percaya pada pembeli dan si pembeli hanya celingukan, liat2 sekeliling bagunan rumah, foto2 yang bukan pada objek dagangan. Bisa jadi anda menjadi target operasi si maling ayam

Selamat meronda, doakan semoga si maling mendapatkan hidayah,

1. Mengkonsumsi harta yang haram adalah perbuatan maksiat kepada Allah dan mengikuti langkah-langkah setat/Iblis.

Allah berfirman : Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, serta mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui. [al-Baqarah/2:168-169].

Mengikuti langkah-langkah syaithan adalah dengan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah dan mengahalalkan apa yang diharamkan-Nya, termasuk dalam hal ini memakan harta yang haram.[13]

2. Ancaman adzab Neraka bagi orang yang mengkonsumsi harta haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari (makanan) yang haram (dan) neraka lebih layak baginya”[14]

Curhat Mahasiswa Fakultas Peternakan: Tahun Depan Wisuda, Mau Kerja Apa?

#AyamNgampus. Kadang menjadi
mahasiswa hasrat kemauan tinggi, libido selalu birahi tapi lebih besarlah gensing begitu keluar jadi sarjana melacurkan diri bekerja bukan pada profesi, menistakan buku-buku kuliah.

Bila anda mahasiswa pertanian/ pertenakan. Jadilah #ayamNgampus Cukup belajar di kampus praktek di kandang, dengan membuat usaha kecilan, insyaallah anda jadi sarjana super.

Membuka lapangan kerja lebih mulia daripada menjadi pencari kerja.

#PetaniBersatuTakTerkalahkan

#curhatan
Senin 28 Nov 2016, 19:27 WIB

Curhatan Mahasiswa Fakulta Peternakan : Tahun Depan Wisuda, Mau. Kerja Apa?


Jakarta - Minat generasi muda di sektor peternakan masih rendah. Beternak bukan pilihan menarik untuk menggantungkan hidup, bahkan bagi seorang lulusan sarjana Fakultas Peternakan sekalipun.

Dela Martin salah satu contohnya. Mahasiswa semester 8 Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung ini melihat tak banyak peluang bekerja di sektor peternakan jika melihat kebijakan-kebijakan pemerintah sejauh ini.

"Tahun 2013 (masuk kuliah), saya mikir tahun depan saya wisuda, mau kerja apa ya? Apa jualan daging di pasar tapi buat apa kuliah tinggi-tinggi. Apa saya jadi pegawai bank, buat apa saya kuliah peternakan. Mau jadi peternak, dari mana modalnya?" ucap Dela saat diberi kesempatan berbicara di acara Kongres Nasional Peternak Rakyat 2016 di TMII, Jakarta, Senin (28/11/2016).

Sebagai mahasiswa, dirinya juga selalu mengamati perkembangan sektor peternakan, termasuk kebijakan-kebijakan impor pemerintah dalam penyediaan protein hewani bagi 260 juta penduduk Indonesia.

"Bagaimana saya mau jadi peternak. Lihat saja banyak impor daging kerbau. Banyak kebijakan impor seperti mie instan, logika kita kalau kita makan mie instan setiap hari, di usus jadi buruk atau kurang baik. Begitu juga kebijakan instan, pasti akhirnya juga punya dampak buruk," kata Dela.

Setali tiga uang, mahasiswa Fakultas Peternakan Unpad lainnya, Rofi Abdul Bari berpendapat sama. Dirinya bingung bagaimana pemerintah selama puluhan tahun lebih mengandalkan impor daging ketimbang memberdayakan ahli-ahli peternakan dari perguruan tinggi.

"Mahasiswa seperti saya jadi bingung. Kita seperti ada dan tiada, sebenarnya kita benar-benar masih dibutuhkan apa tidak, intinya jarang dilirik sama pemerintah," ungkapnya.

Mahasiswa semester 3 asal Garut ini bercerita, seniornya yang saat ini sudah lulus kuliah pun banyak yang malah meniti karir di luar sektor peternakan.

"Senior kakak-kakak banyak di luar (pertanian). Ada kebetulan saya pernah registrasi ke bank, saya ditanya sama teller banknya. 'Dek kamu dari Peternakan Unpad yah? Saya juga dari Peternakan Unpad'," kata Rofi menirukan ucapan teller bank yang ditemuinya itu.

"Saya tanya balik, kok Akang kerjanya di bank sih? Yah cari kerja di peternakan susah sekali," tutur Rofi. (hns/hns) 



Sumber :Detik Finace

Selasa, 20 Desember 2016

Black Sumatra



Black Sumatra (BS)

Begitulah ia dikenal di negeri "Zamrud Katulistiwa" ini. Namanya begitu membuat para penghobi ayam hias dan ayam adu begitu penasaran dengannya, karena menyandang salah satu nama pulau terbesar di Indonesia. Black Sumatra sebenarnya merujuk kepada nama ayam yang di luar negeri dikenal dengan hanya "Sumatra" atau "Sumatra Chicken" dan nama Black merujuk kepada Ayam Sumatra berwarna Hitam, sehingga menjadi Black Sumatra. Walaupun dahulu Ayam Sumatra ini dahulu memiliki warna lainnya seperti Merah (Black Breasted Red), namun warna hitam tetaplah yang paling dominan. Beberapa varian warna dikenal di dunia diantaranya Black, Blue, White (diyakini persilangan dengan Lenghorn), Black Red dan mungkin yang termasuk paling unik adalah Bronze Red. BS dikatakan merupakan salah satu ayam terindah di dunia dan impian para penghobi ayam hias.

Sejarah Black Sumatera

Blue Sumatera - Koleksi Peternak InggrisSejarah Black Sumatra dimulai dengan di impornya ayam ini pada April 1847 oleh J.A.C. Butters of Roxybury, MA. Dan impornya berlanjut oleh pihak lainnya pada kurun waktu1850-1852. Pada tahun 1882 Black Sumatra mulai masuk negara Jerman. Di negara bangsa Bavaria ini Black Sumatra awalnya di kenal dengan nama Black Yokohama, merujuk kepada ayam Yokohama asal Jepang. Hal ini di karenakan kemiripannya dengan ayam Yokohama dan berwarna hitam. Walaupun tetap ada perbedaan antara Yokohama dan Black Sumatra, namun tetap pada awalnya mereka mengenalnya dengan sebutan demikian. 

Bentuk kepala
Pada tahun 1885, Nelson A. Wood dari Smithsonian Institute di Washington D.C., mulai melakukan pembiakan Black Sumatra. Dialah yang berjasa dalam perbaikan fenotipe dan reproduksi ayam Black Sumatra sehingga yang kita kenal dalam bentuk saat ini dengan bulunya yang indah mengalir. Karena bentuknya yang indah memanjang dengan warna hitam berkilap kehijauan dan ekor lebat dan jatuh, maka di Amerika ayam ini pernah di kenal sebagai juga dengan nama "Sumatra Pheasant" dan juga "Java Pheasant Game". 

Berbagai Pendapat Tentang Black Sumatra

Di Sumatra khususnya atau di Indonesia sendiri, Black Sumatra di yakini sudah punah. Ada beberapa kalangan berpendapat, BS yang kita kenal saat ini merupakan ayam yang disilang dengan pheasant jika merujuk kepada bentuk tubuhnya. Ada pula yang berpendapat bahwa Black Sumatra merupakan salah satu jenis ayam hutan. Pendapat lainnya berkata bahwa BS merupakan persilangan beberapa jenis ayam ayam hutan di Indonesia dari Ayam Hutan Merah Sumatera, Ayam Hutan Hijau dan lainnya.  Namun jelaslah semua itu hanyalah spekulasi yang berkembang tanpa catatan ilmiah yang mendukungnya. Terlepas dari semua itu Black Sumatra merupakan salah satu ayam yang menjadi rujukan keindahan dalam bentuk dan warna dengan tampilan tegak gagah dan anggun. 

Perbedaan Black Sumatera saat ini
Telapak BS memiliki warna kuning/putih
Pada awalnya, Black Sumatra di Amerika dan di Eropa (Jerman khususnya) memiliki perbedaan. Black Sumatra dari keturunan Amerika umumnya memiliki ekor yang lebih panjang dari Black Sumatra Eropa. Sedang Black Sumatra Eropa memiliki tampang yang lebih "gamefowl" daripada saudara mereka di Amerika. Berdasarkan hal ini, ada pendapat bahwa Black Sumatra Eropa merupakan Black Sumatra klasik yang masih mirip dengan nenek moyang mereka yang dibawa dahulu dari Pulau Sumatra. Namun sepengalaman penulis berburu Black Sumatra, belum pernah menemukan ayam hitam dari sumatra dengan tampilan menyerupai BS dari Eropa. Walau beberapa orang mengaku memiliki "Black Sumatra Lokal" tetapi, sepanjang pengalaman penulis hal itu memeiliki perbedaan dari banyak hal diantaranya jengger, muka, taji, bentuk badan, warna muka, dll. Dan perbedaan ini kebanyakan luput dari perhatian awam


Perkembangan Black Sumatera

Walau pada awalnya ayam ini di kenal sebagai ayam aduan, namun livestockconservancymengatakan bahwa Black Sumatra sebenarnya bukanlah ayam yang cocok untuk aduan. Karena itu, untuk mendapatkan gaya tarung yang lebih baik, ayam ini di silang dengan jenis lainnya seperti Hyderbad, Rampur Boalia Black, atau Sinhalese. 

Inilah Black Sumatera
Kelangkaan Black Sumatra diakibatkan dengan sedikitnya telur yang dihasilkan oleh indukan mereka juga dikarenakan digunakan sebagai ayam adu taji pada awalnya. Sementara nilai estetika dan keunikan Black Sumatra yang sekaligus dapat digunakan untuk membedakannya dengan ayam lainnya, ini diantaranya :

  1. Bentuk badan yang exotis dengan bahu lebar memanjang dan menyempit ke ekor menyerupai pheasant (ayam pegar)
  2. Kepala kecil, tengkorak besar dengan pandangan cerdas dan garang seperti hewan liar.
  3. Warna bulu hitam berkilau hijau (Black Sumatra)
  4. Taji/Jalu ganda bahkan diantaranya memiliki sampai 7 taji pada tiap kakinya
  5. Perkembangan yang sulit.
  6. Usia yang panjang (salah seorang penghobi mengaku pernah memeliharanya sampai berumur 13-14 tahun).

Saat ini, dari jenis Black Sumatra, juga dikenal warna lain yaitu jenis White Sumatra. Jenis White Sumatra diyakini merupakan persilangan Black Sumatra dengan jenis Leghorn. Dan warna Splash Sumtra diyakini merupakan persilangan Black Sumatra dan Blue Sumatra.

Black Sumatra kembali ke Indonesia

Setelah ratusan tahun merantau ke luar negeri, Black Sumatra akhirnya kembali ke Indonesia. Kembalinya BS ke Indonesia dari awal tahun 2014 ini. Tercatat sudah 4 kali import BS di lakukan dari beberapa negara, yaitu untuk jenis Bantam dan regular size dari Philipine dan jenis Largefowl dari Belanda dan Afrika Selatan.
Saat tulisan ini dibuat, kami telah melakukan ternak BS Bantam yang kami import dari Philipine dari trah juara disana. Tipe BS yang kami ternak adalah dengan tipe Jalu Single (Single Spurs) dimana sangat bagus untuk bahan ayam aduan, karena kepandaian ayam ini dan tipe Jalu renteng. (Multispurs).


Karakteristik


  • Negara Asal : Indonesia, Pulau Sumatra
  • Berat            : Largefowl : Betina 1,8 kg, Jantan 2,25 2,70 kg  Bantam fowl : Betina 625 g, Jantan : 740 g.
  • Fungsi          : Adu Taji dan Ayam Hias (di beberapa negara BS untuk ayam adu taji telah di larang)
  • Warna Telur : Putih
  • Status          : Kritis, langka (IUCN tidakterdaftar)
  • Kepala         : Kecil, pendek dan bulat
  • Jengger       : Sumpel (semakin kecil semakin bagus) dan gelambir kecil (selain sumpel maka akan di diskualifikasi)
  • Muka            : Hitam atau merah ungu kehitaman menyerupai buah plum yang matang
  • Mata            : Bulat, tebal berwarna Coklat dan besar
  • Telinga        : kecil dan berwarna seperti muka (tidak terdapat putih)
  • Leher           : Panjang, melengkung, dan mengambang
  • Sayap          : Panjang, lebar (besar), 
  • Kaki              : Hitam berkilap terkadang ditemukan pula yang hijau
  • Taji               : Single, Double atau triple beberapanya memiliki sampai lima taji (semakin banyak semakin baik)
  • Ekor             : Panjang, jatuh terkulai (kualitas terbaik memiliki sudut 30 derajat). Panjang ekor BS saat usia 2 tahun (tampilan terbaik) sekitar 60-75 sm.
  • Bulu             : Hitam berkilau hijau (Black Sumatra), abu-abu (Blue Sumatra), Blorok (Splash SUmatra), putih (White Sumatra
  • Kulit            : Kuning (bandingkan dengn Cemani yang berwarna hitam)

Dengan semakin naik pamornya ayam Black Sumatra di Indonesia, kini banyak peternak yang mengklaim ayam mereka sebagai Black Sumatra guna mendapatkan keuntungan yang besar. Kejelian pembeli sangat di sarankan guna menghindari kekecewaan di kemudian hari seperti pengalaman beberapa kawan kami, yang membeli ayam BS tetapi setelah dewasa sangat jauh dari karakteristik BS.

Kami, sebagai penghobby ayam langka dan unik telah berhasil mendatangkan bibit Ayam BS berkualitas pada Oktober 2014. Pada Oktober 2015 kami berhasil mendatangkan indukan Blue Sumatra berkualitas yang sangat langka. Dari perkawinan Blue Sumatra dan Blue Sumatra ini maka akan di hasilkan sebagian anakan yang berwarna Splash.

Sumber :

Sabtu, 17 Desember 2016

Ayam Burgo jadi Logo Visit Bengkulu

#AyamNgampus Logo visit Bengkulu

Dalam twitter gubernur Bengkulu @ridwanmukti1963
 menguploud sebuah logo tentang visit Bengkulu, lihat Tweet @ridwanmukti1963

Dalam gambar tersebut terdapat sebuah gambar ayam dengan didadanya terdapat gambar bunga Rafflesia yang memang identik nama bengkulu sebagai land of rafflesia.

Adapun ayam yang di maksud adalah ayam burgo, bukan ayam kampus, namun sangat disayangkan jika program ini tampa upaya membina peternak ayam burgo dengan memberikan bimbingan teknis, ataupun modal budidaya yang baik dan pasar yang jelas, sebab jika tidak ketika menjadi sebuah icon namun tidak ada upaya budaidaya maka yang terjadi eksploitasi terhadap tetua ayam burgo yaitu ayam hutan merah (Gallusgallus sp). Apakah sekedar simbol saja atau memang diprogramkan oleh disnak untuk mengembangbiakan ayam burgo sebagai identitas cirib khas Bengkulu?

Atau nantinya justr wisata ayam kampus yang lebih populer dalam pengembangbiakannya?












Sabtu, 10 Desember 2016

AYAM ARBAIN Persilangan Arab Ras dan Kampung


Ir. Bahrul Ain, alumni Fakultas Peternakan Universitas Mataram dari desa Suralaga, Lombok Timur telah berhasil dengan ayam persilangannya yang diberi nama ayam ARBAIN.

Ayam ARBAIN merupakan persilangan antara Ayam Arab, ayam Ras Petelur, ayam Bangkok dan ayam Kampung, yang kemudian diberi sebutan sesuai dari ayam-ayam yang memberikan keturunan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB, melalui Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI) telah melakukan pengkajian pada kegiatan Kajian Insiatif Lokal pada tahun 2006 terkait dengan pengembangan ayam ARBAIN ini.

Ayam Arbain telah menunjukkan keunggulannya; produktivitas telur mendekati ayam Arab, hen day-nya mencapai 50% (ayam Arab 60-65%); artinya ayam Arbain bisa bertelur 150-200 butir per tahun. Pertumbuhannya cepat dan efisien pakan, dalam umur 6 minggu bobotnya telah mencapai 0,5-0,7 kg menghabiskan pakan rata-rata 0,7 – 1 kg sampai umur 45 hari. Pada umur 6 bulan sudah mencapai bobot jual sekitar 1 – 1,8 kg/ekor. Tekstur daging ayam Arbain lebih lunak dari ayam Kampung tetapi lebih keras dari ayam Broiler.

Ayam Arbain memiliki prospek yang cukup baik di masa mendatang, selain bisa memperkaya sumber ternak penghasil daging dan telur, juga dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat. Saat ini Bahrul Ain terus mengembangkan bisnis ayam Arbain ini dan telah mendapat bantuan dari Bazda dan Koperasi. Penerapan sistem usaha dan pembinaan yang dilakukan oleh Bahrul Ain pada peternak lain adalah dengan sistem inti plasma dan sistem lainnya yaitu peternak membeli telur dan bibit ayam untuk dipelihara sendiri.

Sumber PDF 

Mengenal Ayam Cemara


#AyamKampus ~ Ayam Cemara merupakan jenis ayam yang cukup langka dan termasuk jenis ayam lokal Jawa yang mempunyai kelainan pada pertumbuhan bulunya, pada seluruh bulu tidak tumbuh bulu bendera, sehingga permukaan kulit nampak jelas. Namun kelainan tersebut tidak banyak berpengaruh pada kesehatan maupun daya tahan tubuh terhadap perubahan musim.

Ciri-Ciri Pejantan Ayam Cemara

  • Bobot rata-rata 2 kg.
  • Kepala berukuran sedang dengan bentuk oval memanjang.
  • Jengger tunggal berukuran sedang, bilah, bergerigi kecil-kecil dab berwarna merah kehitam-hitaman.
  • Pial sepasang, warnanya hitam.
  • Cuping telinganya kecil, warnanya juga hitam.
  • Paruhnya pendek, lurus, warnanya hitam dengan ujung abu-abu.
  • Matanya bundar besar, berwarna hitam.
  • Pertumbuhan bulu ketiak sempurna, tidak mempunyai bendera bulu, sehingga menyerupai landak. Yang tumbuh hanyalah batang bulu, jarang dan berwarna hitam kehijau-hijauan.
  • Kakinya berwarna hitam kehijau-hijauan, dengan sisik-sisik kecil teratur rapi.
  • Jari-jari kakinya besar dan pendek, warna hitam kehijau-hijauan.
  • Kuku-kukunya besar, tebal dan melengkung, warnanya hitam kusam.
  • Telapak kakinya halus, berwarna abu-abu kehitam-hitaman.
  • Tajinya pendek, besar, tetapi runcing sekali, berwarna hitam kusam.
Ciri-Ciri Betina Ayam Cemara

  • Berat kira-kira 1,5 kg termasuk ukuran sedang.
  • Jengger tunggal, bilah, berukuran kecil, tebal dan lemas, warnanya hitam kusam.
  • Pial sepasang, berukuran kecil, berwarna hitam.
  • Cuping telingan kecil sekali, berwarna hitam juga.
  • Paruh pendek, lurus, warnanya hitam kusam dengan ujung sedikit abu-abu kekuning-kuningan.
  • Mata bundar, besar, berwarna hitam.
  • Kaki kecil, bersisik kecil-kecil teratur rapi, warnanya hitam kehijau-hijauan.
  • Jari-jari kakinya hitam kehijauan, pendek tetapi kokoh.
  • Telapak kakinya halus dengan warna abu-abu kehitam-hitaman.
  • Kukunya pendek, melengkung dan runcing, berwarna hitam kusam.
  • Tidak berbendera bulu, jadi yang tumbuh hanyalah batang bulu berwarna hitam kehijau-hijauan.
  • Bertelur paling banyak hanya 10 butir per periode.
Ciri-Ciri Telur Ayam Cemara

  • Berbentuk oval memanjang, berukuran sedang dan berwarna putih opaque.
  • Penetasan harus dibantu mesin tetas dan hanya 1/3 saja yang dapat menetas




MENGENAL DAUN KATUK

Daun Katuk (Sauropusandrogynus) merupakan salah satu jenis tanaman semak yang tergolong dalam suku jarak-jarakan (Euphorbiaceae), dengan ketinggian tanaman mencapai 2-3 m. Katuk dapat tumbuh pada dataran rendah yaitu pada ketinggian 0-1500 m diatas permukaan laut (Eniza, 2005).

 Toksonomi tanaman Katuk dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom         :  PlantaeDivisi               :  MagnoliophytaKelas               :  Magnoliopsida
Ordo                :  Malpighiales
Famili              :  Phyllanthaceae
Genus              :  Sauropus
Spesies            :  Sauropus
 androgynus

Nama daerah:

Memata (Melayu)
Simani (Minangkabau)
Katuk (Sunda)
Kebing dan Katukan (Jawa)
Kerakur(Madura)

  Ciri-ciri tanaman katuk adalah cabang-cabang agak lunak, daun tersusun selang-seling pada satu tangkai, berbentuk lonjong sampai bundar dengan panjang 2,5 cm, dan lebar 1,25-3 cm. Katuk (Sauropus androgynus) merupakan tanaman obat-obatan tradisionil yang mempunyai (kandungan daun katuk) zat gizi tinggi, sebagai antibakteri, dan mengandung beta karoten sebagai zat aktif warna karkas (Sri Subekti, 2006).

 Kandungan Daun Katuk antara lain juga senyawa fitokimiaseperti : saponin, flavonoid, dan tanin, isoflavonoid  yang menyerupai estrogen dan ternyata mampu memperlambat dalam berkurangnya massa tulang (osteomalasia), sedangkan saponin terbukti berkhasiat sebagai antikanker, antimikroba,dan meningkatkan sistem imun dalam tubuh (Sri Subekti, 2008).

Pengaruh Suplementasi Daun Katuk Terhadap Ukuran Ovarium dan Oviduk Serta Tampilan Produksi Telur Ayam Burgo

Heri D. Putranto1,2) 

1) Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu 2) Program Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Fakultas Pertanian Unib Jalan Raya W.R. Supratman, Kandang Limun, Bengkulu 38371A Telp. +62 -736 - 21170 ext. 219 Faks. +62 -736 - 21290 e-mail: heri_dp@unib.ac.id

ABSTRACT 
Burgo chicken is one of potential natural fauna resources of Bengkulu Province, Indonesia. The reproductive physiology status of this endemic species is still remain unclear. The cock well knowns for its beautiful color and classified as a crowler type fowl. The hen has a potency as an egg producer. Female burgos in this study were supplemented by 4 levels of katuk leaves extract (non-supplemented, 9, 18 and 27g/chick/day) during 8 weeks. The purpose of this study was to explore the effect of katuk leaves extract supplementation diluted into drinking water on female burgo’s ovarium and oviduct size, and egg production. The results showed that the treatment did not significantly affected all parameters (P>0.05). However, the supplemented of katuk leaves extract hen groups had a higher egg production and ovarium and oviduct size than non-supplemented group. The reason was katuk leaves contains precursor which has a main role in eicosanoids biosynthesis and involved in reproduction and physiological process. Katuk leaves also contains estradiol-17β benzoate which is functioned to improve the reproduction and to stimulate follicle growth and finally caused a higher egg production. 

Key words: Female burgo, egg production, ovarium, oviduct.


ABSTRAK 

Ayam Burgo merupakan salah satu plasma nutfah Provinsi Bengkulu dan juga Indonesia yang hingga saat ini belum banyak diketahui tentang informasi fisiologi reproduksinya. Selain dikenal karena keindahan bulu dan suara ayam jantannya, ayam Burgo betina juga memiliki potensi sebagai penghasil telur. Pada studi ini, ayam Burgo betina mendapatkan suplementasi ekstrak daun katuk yang dibagi dalam 4 aras yaitu nonsuplementasi, 9, 18 dan 27 gr/ekor/hari selama 8 minggu. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi ekstrak daun katuk yang diberikan melalui air minum terhadap ukuran ovarium, oviduk dan tampilan produksi telur ayam Burgo betina sebagai salah satu upaya mendapatkan informasi dasar fisiologi reproduksinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan suplementasi ekstrak daun katuk tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter yang diamati (P>0,05). Tetapi dengan adanya suplementasi ekstrak daun katuk, ayam Burgo betina memiliki kecenderungan untuk bisa menghasilkan produksi telur yang lebih tinggi serta ukuran ovarium dan oviduk yang lebih baik dibanding ayam nonsuplementasi. Hal ini disebabkan karena daun katuk memiliki kandungan prekursor yang berperan dalam biosintesa eicosanoids dan terlibat dalam proses reproduksi dan fisiologi serta kandungan senyawa aktif seperti estradiol-17β benzoat yang dapat meningkatkan fungsi reproduksi dan merangsang pertumbuhan folikel sehingga ayam dapat menghasilkan produksi telur yang lebih tinggi. 

Kata kunci: Ayam Burgo betina, ovarium, oviduk, produksi telur

Domestikasi ayam hutan merah: Studi kasus penangkapan ayam hutan merah oleh masyarakat di Bengkulu Utara

Domestication of red jungle fowl: A case study of red jungle fowl poaching by communities in North Bengkulu 

JOHAN SETIANTO1,2, , HARDI PRAKOSO1 , SUTRIYONO1 

1.Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Jl. W.R. Supratman Kandang Limun Bengkulu 38371, Indonesia. Tel./Fax. +62-736-21290, © email: jsetbkl@yahoo.com, 2.Program Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Jl. W.R. Supratman Kandang Limun Bengkulu 38371, Indonesia. Tel./Fax. +62-736-21290. Manuskrip diterima: 17 November 2014. Revisi disetujui: 18 Januari 2015.

Abstrak

Domestikasi ayam hutan merah: Studi kasus penangkapan ayam hutan merah oleh masyarakat di Bengkulu Utara. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 1 (2): 207-212. Ayam hutan merah merupakan plasma nutfah yang mempunyai peranan penting bagi masyarakat. Penangkapan ayam hutan merah oleh masyarakat terus meningkat. Ayam hutan merah dipelihara sebagai kesenangan ataupun dijadikan bibit untuk menghasilkan ayam persilangan. Penangkapan yang tidak terkendali dapat menyebabkan kepunahan ayam hutan merah. Kajian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai teknik penangkapan ayam hutan merah berbasis masyarakat di Bengkulu Utara. Pemilihan responden dilakukan dengan metode snow ball sampling. Metode ini dilakukan karena keberadaan peternak yang mendomestikasikan ayam hutan merah belum diketahui secara jelas. Data dalam penelitian ini diperoleh secara langsung dari peternak yang dipilih sebagai responden dengan menggunakan kombinasi dari wawancara mendalam dan daftar pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan 65,22% responden melakukan penangkapan, 34,78% tidak melakukan penangkapan. Teknik penangkapan menggunakan ayam pemikat dan jaring 56,67%, ayam pemikat dan racik 26,67%, ayam pemikat dan jaring/racik 13,33% dan lainnya 3,33%. Hasil tangkapan dengan menggunakan ayam pemikat dan jaring 1,44 ekor/memikat/orang, menggunakan ayam pemikat dan racik 1,25 ekor/memikat/orang. Hasil tangkapan dipelihara 26,67% dan tidak dipelihara 73,33%. Penangkapan ayam hutan merah yang dilakukan oleh masyarakat di lokasi perkebunan dan blending zone dengan menggunakan alat ayam pemikat dan jaring, ayam pemikat dan racik, serta tungkup. Hasil tangkapan dipelihara, dikembangkan, dijual, dipotong dan diberikan pada orang lain. Kata kunci: Ayam hutan merah, domestikasi, teknik penangkapan. 

Abstract. 
Domestication of red jungle fowl: A case study of red junglefowl poaching by communities in North Bengkulu. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 1 (2): 207-212. The red jungle fowl is a economically important species, that growing frequency of its poaching could lead to extiction. This study aims to gather information about capturing techniques used by the local communities in North Bengkulu. The data was optained from in-depth interviews and questionnaires to selected respondents. Respondents were chosen by using snow ball sampling method because little is known about domestication of the birds. The results showed that 65.22% of respondents captured the wild birds from the forests, while the other 34.78% did not. Several techniques were used to capture the birds. These techniques include the use of decoys with net traps (56.67%), decoys with line traps (26.67%), decoys with combination of net and line traps (13.33%) and compartment traps (3.33%). The average number of wild fowls captured using a decoy and a trap was 1.44 individual per poacher and 1.25 individual per hunter using a decoy and a line trap. About 26.67% of captured wild fowls were domesticated and about 73.33% were for other purposes, including for food or being sold. In summary, the local communities living in plantation areas and forest buffer zones in North Bengkulu used a decoy and traps (net, line and compartment) to capture red junglefowls. The captured fowls were then domesticated, bred, traded or eaten.

PEMANFAATAN AMPAS TAHU PADA UNGGAS


Oleh : Misnadi


Abstak
Ransum merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi. Biaya yang dikeluarkan untuk pemberian ransum adalah 70% dari total biaya produksi (Listiyowati dan Roospitasari, 1992) Usaha untuk menekan biaya makanan adalah mencari bahan makanan yang tidak bersaing dengan manusia, harganya murah, memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, tersedia secara kontinyu, disukai ternak serta tidak membahayakan bagi ternak yang memakannya (Sulistiowati (1995) Ampas tahu adalah salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan penyusun ransum Dalam pemanfaatan bahan pakan yang belum umum digunakan, harus memperhatikan beberapa hal, seperti: jumlah ketersediaan, kandungan zat gizi sehingga perlu diolah sebelum digunkan sebagai pakan ternak, yaitu dengan tekhnologi fermentasi. pemberian ransum yang mengandung tepung ampas tahu 30% dengan kandungan serat kasar ransum 87% masih menghasilkan pertambahan bobot badan yang tidak berbeda denganransum kontrol.
Kata kunci: Ampas Tahu, Pakan Unggas, Terfermentasi

 PENDAHULUAN
Ransum merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi. Biaya yang dikeluarkan untuk pemberian ransum adalah 70% dari total biaya produksi (Listiyowati dan Roospitasari, 1992). Tingginya biaya produksi ini perlu ditanggulangi dengan menyusun ransum sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat, dengan harga yang relatif lebih murah, tetapi masih mempunyai kandungan gizi yang baik untuk produksi dan kesehatan ternak itu sendiri (Mairizal, 1991).

Usaha untuk menekan biaya makanan adalah mencari bahan makanan yang tidak bersaing dengan manusia, harganya murah, memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, tersedia secara kontinyu, disukai ternak serta tidak membahayakan bagi ternak yang memakannya (Sulistiowati (1995)

Ampas tahu adalah salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan penyusun ransum. Sarnpai saat ini ampas tahu cukup mudah didapat dengan harga murah, bahkan bisa didapat dengan cara cuma-cuma. Ditinjau  dari  komposisi  kimianya  ampas  tahu  dapat  digunakan sebagai sumber protein. Mengingat kandungan protein dan lemak pada ampas tahu yang tinggi yaitu protein 8,66%; lemak 3,79%; air 51,63% dan abu 1,21%, maka sangat memungkinkan ampas tahu dapat diolah menjadi bahan makanan ternak.

 Potensi Ampas Tahu Sebagai Bahan Makanan Ternak
Ampas tahu merupakan limbah dalam bentuk padatan dari bubur kedelai yang diperas dan tidak berguna lagi dalam pembuatan tahu dan cukup potensial dipakai sebagai bahan makanan ternak karen ampas tahu masih mengandung gizi yang baik dan dapat digunakan sebagai ransum ternak besar dan kecil. Penggunaan ampas tahu masih sangat terbatas bahkan seririg sekali menjadi limbah yang tidak termanfaatkan sama sekali  (Wiriano 1985)

Ampas tahu dalam keadaan segar berkadar air sekitar 84,5% dari bobotnya. Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan umur simpannya pendek. Ampas tahu kering mengandung air sekitar 10,0-15,5%, sehingga umur simpannya lebih lama dibandingkan dengan ampas tahu segar (Widyatmoko,1996). Ampas tahu basah akan segera menjadi asam dan busuk dalam 2-3 hari sehingga tidak disukai oleh ternak. Masalah itu dapat ditanggulangi dengan cara menjemur dibawah panas matahari atau dimasukkan dalam oven.

 Peningkatan nilai gizi pada ampas tahu 
Produk sampingan pabrik tahu ini apabila telah mengalami fermentasi dapat meningkatkan kualitas pakan dan memacu pertumbuhan ayam pedaging. telah digunakan sebagai pakan babi, sapi bahkan ayam pedaging.

Namun karena kandungan air dan serat kasarnya yang tinggi, maka penggunaannya menjadi terbatas dan belum memberikan hasil yang baik. Guna mengatasi tingginya kadar air dan serat kasar pada ampas tahu maka dilakukan fermentasi.

Proses fermentasi dengan menggunakan ragi yang mengandung kapang Rhizopus Oligosporus dan R Oryzae. Proses fermentasi akan menyederhanakan partikel bahan pakan, sehingga akan meningkatkan nilai gizinya. Bahan pakan yang telah mengalami fermentasi akan lebih baik kualitasnya dari bahan bakunya. Fermentasi ampas tahu dengan ragi akan mengubah protein menjadi asam-asam amino, dan secara tidak langsung akan menurunkan kadar serat kasar ampas tahu. Analisis proksimat ampas tahu mempunyai kandungan nutrisi cukup baik sebagai bahan ransum sumber protein. Ampas tahu mengandung protein kasar 21,29%, lemak 9,96%, SK 19,94% (Syaiful, 2002) kalsium 0,61%, phospor 0,35%, lisin 0,80%, methionin 1,33% (Lab. IPB, 1995).

 Aman Untuk Unggas
Menurut L. D. Mahfudz, E. Suprijatna dan W. Sarengat melakukan riset untuk mangkaji ampas tahu fermentasi sebagai bahan pakan serta menganalisa pengaruhnya sebagai bahan penyusun ransum ayam pedaging strain Arbor Acres umur 1 minggu “unsex” dengan berat badan rata-rata 120,08±15,58 g. Ampas tahu sebelum dipakai sebagai bahan penyusun ransum difermentasi dengan ragi yang mengandung kapang Rhyzopus Oligosporus dan R. Oryzae. Ransum disusun dengan kandungan protein dan energi yang sama (iso protein dan iso energi). Ransum periode awal mengandung protein 22% dan energi metabolis 2.900 kkal/kg, sedang ransum periode akhir mengandung protein 20% dan energi metabolis 3.000 kkal/kg. secara nyata memperlihatkan adanya peningkatan konsumsi pakan, pertambahan berat badan, berat badan akhir dan berat karkas, seiring dengan meningkatnya level ampas tahu dalam pakan. Namun persentase karkas secara nyata tidak berbeda, sedangkan konversi pakan secara nyata lebih baik dengan pemberian ampas tahu fermentasi.

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Tanwiriah.W, Garnida D, Asmara.I.Y, pemberian ransum yang mengandung tepung ampas tahu 30% dengan kandungan serat kasar ransum 87% masih menghasilkan pertambahan bobot badan yang tidak berbeda denganransum kontrol. Hal ini membuktikan bahwa entok bisa mentolerir kandungan serat kasarransum yang lebih tinggi dari 8%. Begitupun konversi ransum, pemberian ransum yang mengandung tepung ampas tahu tidak berbeda, karenakonsumsi ransum tidak berbeda demikian juga dengan pertambahan bobot badan. Selainitu konversi yang sama memperlihatkan bahwa semua ransum mempunyai tingkat efisiensiyang sama, meskipun mempunyai kandungan serat kasar yang berbeda.
 Kesimpulan

 Tekhnologi fermentasi dapat merubah komposisi kimia ampas tahu menjadi bernilai gizi lebih baik, fermentasi ampas tahu dengan ragi akan mengubah protein menjadi asam-asam amino, dan secara tidak langsung akan menurunkan kadar serat kasar ampas tahu.

Pemberian ransum yang mengandung tepung ampas tahu 30% menghasilkan pertambahan bobot badan yang tidak berbeda dengan ransum kontrol, begitupun pada konversi ransum.
Dengan demikian pemberian ampas tahu dengan batasan tertentu memberikan dapak yang positif terhadap unggas.


 Daftar pustaka
  1. Amrullah, A. K. 2003. Nutrisi unggas. Lembaga Satu Gunung budi, Bogor.
  2. Anggorodi, 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. U-I Press. Jakarta.
  3. Anggorodi, 1995. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  4. Mairizal, 1991. Penggunaan ampas tahu dalam ransum unggas. Poultry Indonesia, No. 133.
  5. Rasyaf, M. 1987. Memelihara Burung Puyuh. Penerbit. Kanisius, Yogyakarta.
  6.  




Pemanfaatan Ampas Tahu sebagai Pakan Unggas



Gustina
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
Jalan Raya Kandang Limun, Bengkulu
Abstrak
            Biaya pakan saat ini sangat mahal dan sudah lumayan susah mendapat pakan yang bagus dengan harga murah. Ampas tahu merupakan limbah dalam bentuk padatan dari bubur kedelai yang diperas dan tidak berguna lagi dalam pembuatan tahu. Oleh karena itu limbah yang sudah tidak berguna sebaiknya diolah menjadi pakan ternak sehingga bisa mendapatkan pakan yang relatif murah dan mempunyai kandungan gizi yang baik untuk produksi dan kesehatan ternak itu sendiri. Kandungan ampas tahu yaitu protein 8,66%; lemak 3,79%; air 51,63% dan abu 1,21%, maka sangat memungkinkan ampas tahu dapat diolah menjadi bahan makanan ternak. Penggunaan ampas tahu yang diberikan dalam ransum ayam broiler sampai level 20%.
Kata kunci : Pakan unggas, Ampas Tahu, Kandungan Ampas Tahu

 PENDAHULUAN
Tingginya harga bahan pakan penyusun ransum, seperti jagung, bungkil kedelai dan tepung ikan menghambat pengembangan peternakan broiler. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut dengan jalan menggalakkan potensi yang ada sebagai sumber bahan pakan ternak yang murah dan berkualitas, termasuk pemanfaatan limbah industri.
Biaya pakan merupakan biaya yang harus disediakan dengan porsi lebih untuk mengembangkan peternakan secara intensif dibandingkan dengan kebutuhan lainnya. Semakin intensif suatu peternakan diusahakan, maka semakin kreatif juga peternak dalam menggunakan bahan by product (hasil samping) sebagai bahan penyusun ransum.  Pemanfaatan bahan-bahan yang mudah didapat, dengan harga yang relatif lebih murah, tetapi masih mempunyai kandungan gizi yang baik untuk produksi dan kesehatan ternak itu sendiri adalah suatu hal yang menjadi harus untuk dilakukan peternak untuk meningkatkan margin keuntungan yang lebih tinggi.
Ransum merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi. Biaya yang dikeluarkan untuk pemberian ransum adalah 70% dari total biaya produksi (Listiyowati dan Roospitasari, 1992). Tingginya biaya produksi ini perlu ditanggulangi dengan menyusun ransum sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat, dengan harga yang relatif lebih murah, tetapi masih mempunyai kandungan gizi yang baik untuk produksi dan kesehatan ternak itu sendiri (Mairizal, 1991).
Usaha untuk menekan biaya makanan adalah mencari bahan makanan yang tidak bersaing dengan manusia, harganya murah, memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, tersedia secara kontinyu, disukai ternak serta tidak membahayakan bagi ternak yang memakannya (Sulistiowati (1995).
Konsumsi pakan merupakan jumlah dari pakan yang diberikan dikurangi dengan jumlah pakan yang tersisa dan tercecer. Pertambahan bobot badan merupakan selisih antara bobot badan awal dengan bobot badan akhir selama waktu tertentu (Rasyaf, 2006). Konversi ransum merupakan pembagian antara jumlah pakan yang dikonsumsi pada minggu tertentu dengan pertambahan bobot badan yang dicapai pada minggu itu pula.

Potensi Ampas Tahu Sebagai Pakan Ternak
Tahu adalah makanan yang banyak mengandung banyak protein nabati yang banyak diminati konsumen. Efek lain dari peningkatan produksi tahu adalah surplus ampas tahu atau sisa dari pembuatan tahu yang belum banyak dimanfaatkan dan dianggap kurang mempunyai nilai ekonomis.
Jika kita mengkaji lebih lanjut dalam ampas sisa tadi masih bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang banyak kandungan proteinya. Saat ini belum banyak peternak yang memanfaatkan ampas tahu tadi sebagai pakan tambahan bagi ternaknya selain konsentrat. Pertumbuhan ternak yang di bebri pakan ampas tahu lebih cepat dari pada yang tidak diberi (Titis, 2009).
Ampas tahu adalah salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan penyusun ransum. Sampai saat ini ampas tahu cukup mudah didapat dengan harga murah, bahkan bisa didapat dengan cara cuma-cuma. Ditinjau  dari  komposisi  kimianya  ampas  tahu  dapat  digunakan sebagai sumber protein. Mengingat kandungan protein dan lemak pada ampas tahu yang cukup tinggi. Tetapi kandungan tersebut berbeda tiap tempat dan cara pemprosesannya.  Terdapat laporan bahwa kandungan ampas tahu yaitu protein 8,66%; lemak 3,79%; air 51,63% dan abu 1,21%, maka sangat memungkinkan ampas tahu dapat diolah menjadi bahan makanan ternak (Dinas Peternakan Provinsi jawa Timur, 2011).
Limbah adalah seluruh bahan yang terbuang dari proses produksi barang-barang kimia, pertambangan, penyulingan, pertanian dan bahan-bahan pembuatan makanan yang tampak perubahannya pada permukaan air. Karakteristis ampas tahu adalah partikel atau padatan berwarna keruh keputih-putihan dan bau khas kedelai. Karakteristik kimia ampas tahu adalah kandungan organik yaitu karbohidrat, lemak, dan protein. Limbah padat pembuatan tahu di dalam air merupakan padatan tersuspensi dan terendap.
Ampas tahu yang merupakan limbah industri tahu memiliki kelebihan, yaitu kandungan protein yang cukup tinggi (Masturi et al. 1992). Namun ampas tahu memiliki kelemahan sebagai bahan pakan yaitu kandungan serat kasar dan air yang tinggi. Kandungan serat kasar yang tinggi menyulitkan bahan pakan tersebut untuk dicerna itik dan kandungan air yang tinggi dapat menyebabkan daya simpannya menjadi lebih pendek ((Masturi et al., 1992 dan Mahfudz et al., 2000). Salah satu cara untuk mengurangi kandungan serat kasar tersebut adalah diproses dengan fermentasi.

Nilai Gizi Ampas Tahu
Ditinjau dari komposisi kimianya ampas tahu dapat digunakan sebagai sumber protein. Ampas tahu lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan kacang kedelai. Prabowo dkk., (1983) menyatakan bahwa protein ampas tahu mempunyai nilai biologis lebih tinggi daripada protein biji kedelai dalam keadaan mentah, karena bahan ini berasal dari kedelai yang telah dimasak.
Ampas tahu juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu untuk mikro; Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm.
Ampas tahu dalam keadaan segar berkadar air sekitar 84,5 % dari bobotnya. Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan umur simpannya pendek. Ampas tahu basah tidak tahan disimpan dan akan cepat menjadi asam dan busuk selama 2-3 hari, sehingga ternak tidak menyukai lagi. Ampas tahu kering mengandung air sekitar 10,0 - 15,5 % sehingga umur simpannya lebih lama dibandingkan dengan ampas tahu segar (Widjatmoko, 1996).
  
Tabel 1. Komposisi Nutrisi/Kimia :
Nutrisi
Ampas tahu
Basah (%)
Kering (%)
Bahan. Kering
14,69
88,35
Protein Kasar
2,91
23,39
Serat.  Kasar
3,76
19,44
Lemak kasar
1,39
9,96
Abu
0,58
4,58
BETN
6,05
30,48

Tahu diproduksi dengan memanfaatkan sifat protein, yaitu akan menggumpal bila bereaksi dengan asam. Penggumpalan protein oleh asam cuka akan berlangsung secara cepat dan bersamaan diseluruh bagian cairan sari kedelai, sehingga sebagian besar air yang semula tercampur dalam sari kedelai akan terkumpul di dalamnya. Pengeluaran air yang terkumpul tersebut dapat dilakukan dengan memberikan tekanan. Semakin besar tekanan yang diberikan, semakin banyak air dapat dikeluarkan dari gumpalan protein. Gumpalan protein itulah yang disebut dengan tahu (Suprapti, 2005).
Sebagai akibat proses pembuatan tahu, sebagian protein terbawa atau menjadi produk tahu, sisanya terbagi menjadi dua, yaitu terbawa dalam limbah padat (ampas tahu) dan limbah cair. Kandungan gizi dalam kedelai, tahu dan ampas tahu masing-masing dapat dilihat dalam tabel 2


Tabel 2. Kandungan Unsur Gizi dan Kalori dalam Kedelai, Tahu dan Ampas Tahu

No
Unsur Gizi
Kadar/100 g Bahan
Kedelai
Tahu
Ampas Tahu
1
Energi (kal)
382
79
393
2
Air (g)
20
84,4
4,9
3
Protein (g)
30,2
7,8
17,4
4
Lemak (g)
15,6
4,6
5,9
5
Karbohidrat (g)
30,1
1,6
67,5
6
Mineral (g)
4,1
1,2
4,3
7
Kalsium (g)
196
124
19
8
Fosfor (g)
506
63
29
9
Zat besi (mg)
6,9
0,8
4
10
Vitamin A (mg)
29
0
0
11
Vitamin B (mg)
0,93
0,06
0,2

Sumber: Daftar Analisis Bahan Makanan Fak. Kedokteran UI (Suprapti, 2005)

Pengolahan dan Pengawetan Ampas Tahu
Ampas tahu memiliki kadar air dan protein yang cukup tinggi sehingga bila disimpan akan menyebabkan mudah membusuk dan berjamur. Pengolahan ampas tahu sebagai tepung dapat dilakukan dengan cara penjemuran atau dengan pengeringan dengan sinar matahari atau dengan oven pada suhu 45-50°C, kemudian digiling sampai menjadi tepung (Sudigdo, 1983).
Bila mengawetkan ampas tahu secara basah dapat dilakukan dengan pembuatan silase tanpa menggunakan stater. Terlebih dahulu ampas tahu dikurangi kadar airnya dengan cara dipres sampai kadar air mencapai kira-kira 75%. Lalu disimpan dalam ruang kedap udara atau plastik tertutup rapat supaya udara tidak dapat masuk. Setelah tertutup disimpan minimal 21 hari dan digunakan sesuai dengan kebutuhan. Penyimpanan dengan cara pembuatan silase dapat mengawetkan ampas tahu sampai 5-6 bulan (Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat, 1999). Pembuatan silase ampas tahu dapat dicampur dengan bahan pakan lain.
Proses fermentasi akan menyederhanakan partikel bahan pakan, sehingga akan meningkatkan nilai gizinya. Bahan pakan yang telah mengalami fermentasi akan lebih baik kualitasnya dari bahan bakunya. Fermentasi ampas tahu dengan ragi akan mengubah protein menjadi asam-asam amino, dan secara tidak langsung akan menurunkan kadar serat kasar ampas tahu (Poultryindonesia, 2010).
Fermentasi dapat memecah selulosa, hemiselulosa, dan polimernya menjadi gula sederhana atau turunannya serta mampu meningkatkan nutrisi bahan asal, karena mikroba bersifat katabolik selain juga dapat mensintesis vitamin seperti riboflavin, vitamin B12 dan pro vitamin A (Mahfudz et al., 1997). Salah satu bahan untuk fermentasi adalah ragi oncom yang mengandung kapang Neurospora sitophila, kapang ini memiliki aktivitas lipolitik yang tinggi, yaitu memproduksi lipase yang menghidrolisa trigliserida menjadi asam-asam lemak bebas.

Penggunaan Ampas Tahu pada Unggas
Menurut Yusrizal (2002), pemberian ampas tahu dalam ransum yang digunakan sebagai pakan itik mojosari fase stater tidak menimbulkan dampak negatif terhadap performansnya. Ampas tahu yang digunakan dalam ransum itik Mojosari sampai level 15 %. Hal ini berarti ampas tahu bisa diberikan sebagai bahan pakan untuk itik Mojosari dalam fase stater dan finisher karena ampas tahu tidak mempengaruhi performans dari itik Mojosari itu sendiri.
Pemberian ampas tahu untuk mengetahui kualitas karkas broiler dilakukan oleh Yuni Sofrianti (2001) diperoleh hasil bahwa pemberian ampas tahu kedalam ransum broiler sampai level 36 % tidak menurunkan kualitas karkas broiler. 
Menurut Dessita (2003) pemberian ampas tahu sampai level 20% yang diberikan pada puyuh (Cortunix-cortunix japonica) umur 1-6 minggu tidak memberikan efek negatif terhadap performans puyuh umur 1-6 minggu dibandingkan ransum normal. Sedangkan pemberian ampas tahu sampai level 10% yang diberikan pada puyuh (Cortunix-cortunix japonica) setelah 6 bulan produksi secara kumulatif tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi ransum, produksi telur, berat telur dan konversi ransum (Ferdinan sembiring, 2002).
Terhadap produksi telur puyuh, pemberian tepung ampas tahu dalam ransum taraf 10% pada puyuh umur 20-32 minggu secara kumulatif tidak berdampak negatif terhadap konsumsi ransum, prouksi telur, berat telur dan konversi ransum (Suparyanto, 2003).

 KESIMPULAN
            Dari artikel diatas dan hasil pembahasan dapat diambil kesimpulan, yaitu :
1.      Ampas tahu memiliki nilai nutrisi yang baik dan digolongkan ke dalam bahan pakan sebagai sumber protein.
2.      Ampas tahu apabila diolah dan diawetkan, baik secara kering maupun secara basah dapat dimanfaatkan dan disimpan dalam waktu yang cukup lama.
DAFTAR PUSTAKA

  1. Dessita. 2003. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performans Puyuh (Coturnix-cortunix japonica) umur 1-6 minggu. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.
  2. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat. 1999. Uji Coba Pembuatan Silase Ampas Tahu. Jawa Barat.
  3. Ferdinan sembiring. 2002. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performans Puyuh (Coturnix-cortunix japonica) setelah 6 bulan produksi. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.
  4. Mairizal, 1991. Penggunaan ampas tahu dalam ransum unggas. Poultry Indonesia, No. 133.
  5. Masruhah, L. 2008. Pengaruh Penggunaan Limbah Padat Tahu Dalam Ransum Terhadap Konsumsi Pakan, Pertambahan Bobot Badan Dan Konversi Pakan Pada Ayam Kampung (Gallus Domesticus) Periode Grower, Skripsi. Universitas Islam Negeri (Uin), Malang.
  6. Poultryindonesia. 2010. Ampas Tahu Tingkatkan Produksi Broiler.Http://www.Poultryindonesia.com
  7. Sudigdo, E.M. 1983. Kedelai Dijadikan Lebih Bergizi. Cetakan ke-2. Terate, Bandung.
  8. Suparyanto. 2003. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Produksi Telur Puyuh (Coturnix-cortunix japonica) umur 20-32 minggu. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.
  9. Suprapti, M. L. 2005. Pembuatan Tahu. Kanisius: Yogyakarta.
  10. Yuni sofrianti. 2001. Pengaruh Pemberian Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Kualitas Karkas Broiler. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.
  11. Yusrizal. 2002. Pengaruh Pemberian Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performans itik Mojosari fase stater. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.