Sabtu, 10 Desember 2016

PEMBERIAN TEPUNG AMPAS TAHU DALAM RANSUM RUMINANSIA DAN UNGGAS

Oleh : Rina Yunita
Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan Universitas Bengkulu
Abstrak
Dalam mengelola usaha peternakan, ransum seringkali menjadi kendala yang dihadapi oleh peternak karena harganya yang mahal. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan pemanfaatan bahan pakan yang mudah diperoleh, ekonomis, mempunyai kandungan gizi yang cukup baik, dan tidak mengganggu produksi serta kesehatan ternak itu sendiri. Salah satu bahan pakan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusun ransum yaitu ampas tahu. Ampas tahu merupakan salah satu bahan pakan yang masih cukup baik dan potensial untuk digunakan sebagai bahan penyusun ransum. Menurut Rahman (1993), ampas tahu dalam bentuk aslinya dapat menimbulkan dampak atau permasalahan lingkungan, karena hasil degradasinya dapat menimbulkan persenyawaan yang berbau busuk jika ampas tahu tidak dimanfaatkan. Ampas tahu memiliki kandungan protein dari pemerasannya sebesar 17% dari jumlah protein yang terdapat dalam kedelai dan protein yang terdapat dalam ampas tahu sebesar 6%. Ampas tahu sebagai makanan ternak dapat diberikan dalam bentuk tepung atau dapat diberikan dalam bentuk basah. Dari hasil analisis kimia pakan, ampas tahu mengandung protein kasar sebesar 21,29%, lemak 9,96%, serat kasar 19,94%, energi metabolis 1800 kkal/kg, kalsium 0,14% dan phospor 1,13% (Airirsyah, 2001).
Kata kunci : ampas tahu, ransum, nilai gizi, entok, puyuh, ruminansia

Pendahuluan
            Ransum seringkali menjadi kendala dikarenakan harganya yang mahal. Sementara itu biaya ransum yang harus dikeluarkan oleh peternak bisa mencapai 80% dari biaya produksi (Listiowati dan Roospitasari, 1992). Tingginya harga pakan ini disebabkan oleh mahalnya harga bahan potensial penyusun pakan yang umumnya merupakan sumber protein yang bersaing dengan kebutuhan manusia. Untuk memecahkan masalah tersebut dapat dilakukan dengan menyusun ransum sendiri melalui pemanfaatan bahan pakan yang mudah diperoleh, harga lebih murah, mempunyai kandungan gizi yang cukup baik, dan juga tidak mengganggu produksi serta kesehatan ternak itu sendiri (Mairizal, 1991).

Salah satu bahan pakan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusun ransum adalah ampas tahu. Ampas tahu merupakan sisa hasil pembuatan tahu yang memiliki kandungan gizi yang cukup baik dengan protein kasar sekitar 21,29% (Airirsyah, 2001). Menurut Sudigdo (1983), amapas tahu dapat diawetkan dengan mengubahnya menjadi tepung. Ampas tahu diperoleh dari hasil pembuatan tahu yang dimulai dari perendaman kedelai selama 24 jam, kemudian dicuci dan digiling. Hasil gilingan kedelai itu merupakan bubur pada proses pembuatan tahu yang kemudian dimasak lebih kurang 10 menit dan disaring sehingga diperoleh bagian filtrat yang berupa susu kedelai dan ampas tahu (Sudigno, 1983). Ampas tahu dalam bentuk aslinya dapat menimbulkan dampak atau permasalahan lingkungan karena hasil degradasinya dapat menimbulkan persenyawaan yang berbau busuk jika ampas tahu tidak dimanfaatkan.

Potensi ampas tahu cukup tinggi, kacang kedelai di Indonesia tercatat pada Tahun 1999 sebanyak 1.306.253 ton, sedangkan Jawa Barat sebanyak 85.988 ton. Bila 50% kacang kedelai tersebut digunakan untuk membuat tahu dan konversi kacang kedelai menjadi ampas tahu sebesar 100-112%, maka jumlah ampas tahu tercatat 731.501,5 ton secara nasional dan 48.153 ton di Jawa Barat. Potensi ini cukup menjanjikan sebagai bahan pakan ternak. Ampas tahu merupakan limbah dalam bentuk padatan dari bubur kedelai yang diperas dan tidak berguna lagi dalam pembuatan tahu dan cukup potensial dipakai sebagai bahan makanan ternak karena ampas tahu masih mengandung gizi yang baik dan dapat digunakan sebagai ransum ternak besar dan kecil. Penggunaan ampas tahu masih sangat terbatas bahkan sering sekali menjadi limbah yang tidak termanfaatkan sama sekali  (Wiriano 1985). Ampas tahu dalam keadaan segar berkadar air sekitar 84,5% dari bobotnya. Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan umur simpannya pendek. Ampas tahu kering mengandung air sekitar 10,0-15,5%, sehingga umur simpannya lebih lama dibandingkan dengan ampas tahu segar (Widyatmoko,1996). Ampas tahu basah akan segera menjadi asam dan busuk dalam 2-3 hari sehingga tidak disukai oleh ternak. Masalah itu dapat ditanggulangi dengan cara menjemur di bawah panas matahari atau dimasukkan dalam oven.

            Menurut Listiyowati dan Roospitasari (1992), zat-zat makanan yang dibutuhkan puyuh adalah protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air. Setiap aktivitas ternak, baik itu berjalan, bernafas, bertelur, dan lain-lain membutuhkan energi. Energi dipenuhi dari karbohidrat, lemak, dan protein yang semuanya itu berasal dari makanan di dalam tubuh. Energi digunakan untuk hidup pokok, gerak otot, sintesa jaringan baru, aktivitas kerja dan menjaga temperatur tubuh. Pada hewan muda, energi diberikan untuk kebutuhan pokok, untuk membentuk protein, sedangkan pada hewan dewasa kelebihan energi dibentuk menjadi lemak (Anggorodi, 1985). Vitamin dan mineral merupakan unsur gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit tetapi mutlak. 

Tabel Komposisi zat-zat makanan ampas tahu

Bahan
BK
PrK
Serat kasar
Lemak kasar
NDF
ADF
Abu
Ca
P
Eb
%
%
%
%
%
%
%
%
%
%
Ampas tahu
13,3
21,0
23,58
10,49
51,93
25,63
2,96
0,53
0,24
47,30
Sumber: Pulungan, dkk., (1985)
*) Sutardi dkk, 1976
**) Arianto (1983)

Prabowo dkk., (1983) menyatakan bahwa protein ampas tahu mempunyai nilai biologis lebih tinggi daripada protein biji kedelai dalam keadaan mentah, karena bahan ini berasal dari kedelai yang telah dimasak. Ampas tahu juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu untuk mikro; Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm (Sumardi dan Patuan, 1983). Di samping memiliki kandungan zat gizi yang baik, ampas tahu juga memiliki antinutrisi berupa asam fitat yang akan mengganggu penyerapan mineral bervalensi 2 terutama mineral Ca, Zn, Co, Mg, dan Cu, sehingga penggunaannya untuk unggas perlu hati-hati (Cullison, 1978).

Jika kita mengkaji lebih lanjut dalam ampas sisa tadi masih bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang banyak kandungan proteinya. Saat ini belum banyak peternak yang memanfaatkan ampas tahu tadi sebagai pakan tambahan bagi ternaknya selain konsentrat. Pertumbuhan ternak yang di bebri pakan ampas tahu lebih cepat dari pada yang tidak diberi. Jika dikalkulasi nilai ekonomi peternak akan mendapat untung yang lebih. Selama ini stok ampas tahu masih melimpah, harganyapun masih sangat murah. Lebih murah jika dibandingkan dengan harga konsentrat. Haraganya kira kira sekitar 9-12 ribu per karung(±60-80kg). Sehingga masih sangat menguntungkan bagi para peternak. Peternak mengalani keuntungan yang lebih karena dengan sedikit pengeluaran tambahan buat membeli ampas tahu tetapi hasil yang di dapat akan lebih banyak. Waktu perawatan/pertumbuhan lebih cepat karena asupan protein bagi ternak lebih tinggi. Ampas tahu dapat dijadikan pakan bagi berbagai jenis ternak diantaranya:

·        Pakan Ternak Bebek

Pada bebek pemberian ampas dapat diberikan sebagai pengganti konsentrat, selain harga murah ampas tahu juga mempercepat pertumbuhan bebek bebek yang kemudian juga menghasilkan daging dan telur. Dengan demikian biaya produksi telur bebek lebih ringan. Para peternak bebek dapat menghemat beaya, karena dengan pakan ampas sebagai pengganti konsentrat akan menekan beaya pemeliharaan sehingga keuntungan dapat meningkat. Ampas tahu bisa diberikan pada entok dalam bentuk kering (tepung) atau basah. Pemberian ampas tahu pada entok mungkin sudah dilakukan di masyarakat. Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan ampas tahu adalah kandungan serat kasarnya yang tinggi, jadi pemakaiannya dalam ransum harus dibatasi, karena bangsa unggas kurang bisa mencerna serat kasar dan bila kelebihan bisa berpengaruh buruk pada performan. Performan biasa dimanifestasikan dalam besarnya konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, dan konversi ransum. Pada hasil penelitian dapat dilihat bahwa pada perlakuan ransum yang mengandung tepung ampas tahu 30% dengan kandungan serat kasar ransum 8,87%  masih menghasilkan pertambahan bobot badan yang tidak berbeda dengan ransum kontrol. Hal ini membuktikan bahwa entok bisa mentolerir kandungan serat kasar ransum yang lebih tinggi dari 8%. Dengan demikian, dengan pertambahan bobot badan yang tidak berbeda maka tepung ampas tahu dapat digunakan pada ransum entok sebanyak 30%.

·        Pakan Ternak Puyuh

Menurut Anggorodi (1995), pada masa awal pertumbuhan burung puyuh tumbuh begitu cepat, sehingga pada umur 6 minggu burung tersebut mencapai 90-95% bobot tubuh dewasa kelaminnya. Ditambahkan oleh Tillman dkk. (1998), bahwa pertumbuhan mempunyai tahap-tahap yang cepat dan lambat, tahap cepat terjadi pada saat sampai pubertas dan tahap lambat terjadi pada saat kedewasaan tubuh telah tercapai. Puyuh yang diberi ransum dengan level protein 20%, dengan energi metabolis 2900 kkal/kg akan memberikan produksi, fertilitas dan daya tetas yang optimal dibandingkan dengan pemberian ransum dengan berbagai level. Pemberian ampas tahu sampai 10% tidak mempengaruhi palatabilitas pakan dan tidak menurunkan berat badan. Kesegaran dan palatabilitas serta tingkat energi dalam ransum menentukan banyaknya makanan yang dikonsumsi. Telur yang dihasilkan pun beratnya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur induk. Menurut wahyu (1992), pertumbuhan dipengaruhi oleh jumlah ransum yang dikonsumsi dan kualitas ransum itu sendiri. Pertambahan berat badan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan. Hal ini menunjukan pemberian ampas tahu sampai 10% masih cukup palatabel dan tidak mengurangi efisiensi pakan serta konsumsi ransum. Menurut Rasyaf (1985), mineral-mineral yang dibutuhkan oleh puyuh adalah Ca, P, Na, dan Mg. Mineral Ca dan P berperan dalam pembentukan tulang pada saat puyuh sedang tumbuh, dan berperan juga dalam pembentukan kulit telur pada puyuh yang sedang berproduksi. Ransum puyuh mengandung 0,8% phospor dan 2,53% kalsium akan memberikan produksi telur maksimum sebesar 90% dan daya tetas yang baik, dibandingkan dengan 

Kesimpulan

Mahalnya harga ransum yang akan diberikan terhadap ternak dapat disiasati dengan membuat ransum sendiri dengan bahan yang mudah diperoleh, harga lebih murah, mempunyai kandungan gizi yang cukup baik, dan juga tidak mengganggu produksi serta kesehatan ternak itu sendiri.
Penggunaan tepung ampas tahu sampai level 10% pada ternak puyuh tidak memberikan efek negatif terhadap performans puyuh serta produksi telur puyuh. Pada ternak entok pun penggunaan tepung ampas tahu sebanyak 30% tidak memberikan efek negatif. Namun demikian, pemberian ampas tahu sebesar 30% dalam ransum menghasilkan performan entok yang terbaik ditunjukkan dengan nilai konversi ransum yang paling efisien. Dan pada ternak ruminansia, pemberian ampas tahu sebagai ransum memberikan pengaruh yang baik terhadap performans ternak ruminansia.

Daftar Pustaka
  1. Tarmidi, A.R. 2009. Penggunaan Ampas Tahu dan Pengaruhnya pada Pakan Ruminansia. Karya Ilmiah. Universitas Padjadjaran.
  2. Tanwiriah, Wiwin, dkk. 2009. Pengaruh Tingkat Pemberian Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performan Entok (Muscovy Duck) pada Periode Pertumbuhan. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran.
  3. Suparyanto. 2000. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Produksi Telur Puyuh (Coturnix-coturnix japonica) Umur 20-32 minggu. Skipsi. Jurusan Peternakan, Universitas Bengkulu.
  4. Syaiful, F. L. 2000. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Pakan terhadap Performans Puyuh (Coturnix-coturnix japonica) Umur 1-6 minggu. Skipsi. Jurusan Peternakan, Universitas Bengkulu.
  5. Purbosrianto, Titis. 2009. Pemanfaatan Ampas Tahu untuk Pakan Ternak. Artikel Ilmiah.
  6. Tarmidi, Ana. R. 2010. Penggunaan Ampas Tahu dan Pengaruhnya pada Pakan Ruminansia. Artikel Ilmiah.
  7. Dijaya, A.S. 2003. Penggemukan Itik Jantan Potong. Penebar Swadaya. Cetakan Pertama. Jakarta